Sumpah Pemuda di Era Modern

Melihat kembali sejarah perjalanan bangsa dalam meniti kemerdekaan adalah tidak pantas bila kita mengesampingkan peranan sumpah pemuda di dalam perkembangan bangsa Indonesia. Sumpah pemuda di zaman dulu memanglah merupakan suatu pernyataan tulus ikhlas dan penuh kebaktian di mana segala atribut kepentingan di leburkan dalam suatu kalimat-kalimat positif yang benar-benar membangkitkan dan juga mengharukan. Bagaimana tidak suasana di saat benar-benar dalam tekanan dan penuh pengorbanan dari penjajah bangsa asing para pemuda-pemuda bangsa dari berbagai penjuru pulau-pulau di Indonesia masih menyempatkan diri untuk berkumpul , berkumpul bukan sekedar bercanda tapi adalah membuat tonggak sejarah baru yaitu untuk bersatu dalam sebuah ikatan sumpah.

Mereka , para anggota organisasi pemuda memanglah bukan manusia sembarangan, mereka berkemauan keras agar sumpah benar-benar dilaksanakan dan membumi di tanah Indonesai ini. Kita tak bisa bayangkan, apa jadinya bila memang Sumpah pemuda kala itu tidak menggema, dan batal dilaksanakan, niscaya anak cucu kita sekarang ini sudah dipastikan akan mengalami suatu naskah cerita sejarah yang berbeda dengan  saat ini. Seperti para sejarawan dan pendidik ketahui bahwa sumpah pemuda adalah sebuah sumpah dimana semua pemuda di Indonesia ini mengakui untuk bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Tiga dasar dalam sebuah sumpah inilah yang menjadikan kekuatan maha dahsyat yang ternyata membuat Indonesia bergerilya untuk mencari jati dirinya dalam sebuah kemerdekaan pada tahun 1945.

Bila kita telusuri perjalanan sumpah pemuda yang diawali dengan Rapat pertama yaitu pada hari Sabtu, 27 Oktober 1928 yang berhasil menghasilkan suatu mufakat tentang  arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Pada intinya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Selantjutnya dalam Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, juga menghasilkan suatu mufakat penting yaitu tentang masalah pendidikan. Disana dihasilkan pendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada sesi berikutnya,  juga dijelaskan tentang pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Karena pada intinya gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini dapat mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, guna meraih hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Melihat perjalanan kekuatan sumpah pemuda yang sungguh mengaguman , memperlihatkan bahwa dengan segala ketulusan dan keikhlasan kita semua ternyata mampu bergandengan tangan bersatu padu hingga meraih kemerdekaan ini. Sunnguh ironis memang momentum-momentum bersejarah ini bila dilupakan begitu saja, kita juga sering menganggap remeh tentang nilai dan makna filosofis sumpah pemuda ini di masa kini. Bahkan banyak diantara pemuda-pemuda kita sekarang, juga lupa akan arti dan makna sumpah pemuda.Mereka mennganggap nilai sejarah zaman dulu adalah hanya mengandung filosofis di zaman dulu saja, dan tidak menempatkan bagaimana seharusnya berkembang dan digunakan pada zaman sekarang ini. Sesi sesi terpenting keberhasilan sumpah pemuda adalah bagaimana menciptakan makna filosofi sumpah pemuda ini dalam berbagai bidang  kehidupan sekarang ini, baik  pendidikan, sosial, pertahanan , budaya maupun yang lainnya.

Sudah selayaknya bila kita bersatu dan memperkuat ikatan satu sama lain agar Indonesia tetap kokoh dan bertahan di tengah krisis global yang mengancam ekonomi negeri ini. Sumpah Pemuda membawa berita baik bahwa sampai saat ini kita masih disatukan oleh tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Persatuan dan Kesatuan merupakan langkah dasar kemajuan suatu bangsa. Dan akhirnya Selamat Hari Sumpah Pemuda, di masa kini semoga kita tetap jaya sepeti harapan para pahlawan pahlawan pemuda Indonesia.

Facebook, Alternatif Media Pembelajaran

Facebook , siapa orang yang pada saat ini tidak mengenalnya ? Situs jejaring sosial yang mulai kontroversial dan menggejola sejak dekade tahun 2004 itu kini telah menjadi barang yang bukan awam lagi bagi kebanyakan orang. Bagaimana tidak situs yang awalnya hanya sebagai tugas akhir kuliah seorang mahasiswa bernama Mark Zuckerberg, dan dulu hanya digunakan sebagai media saling mengenal antar mahasiswa Harvard , AS saja, kini telah menjadi sosial networking yang begitu memikat banyak orang.
Sejarah Facebook memang sangat mencengangkan, dalam waktu dua minggu setelah diluncurkan, separuh dari semua mahasiswa Harvard telah mendaftar dan memiliki account di Facebook bahkan 4 bulan semenjak diluncurkan, Facebook telah memiliki 30 kampus dalam jaringannya. Sang pemilik facebook juga bagaikan kejatuhan durian runtuh , pasalnya banyak para investor berminat untuk membelinya, lihat saja terakhir kali penawaran yang tidak kalah menggiurkan yaitu, oleh Yahoo senilai 1 Milyar US Dollar, walaupun pada akhirnya penawaran itu tetap ditolaknya. Sejak terakhir penawaran itulah, setelah Facebook yakin dengan kekuatan jaringannya maka tidak tanggung-tanggung Facebook di buka untuk siapa saja yang memiliki account email di dunia ini, mulai dari sekolah tingkat atas, tempat kerja, atau wilayah geografis.
Tidak ada situs jejaring sosial lain yang mampu menandingi daya tarik Facebook terhadap user. Pada tahun 2007, terdapat penambahan 200 ribu account baru perharinya Lebih dari 25 juta user aktif menggunakan Facebook setiap harinya. Rata-rata user menghabiskan waktu sekitar 19 menit perhari untuk melakukan berbagai aktifitas di Facebook. Lantas apa sebenarnya kegunaan jejaring social ini bagi kebanyakan orang sehingga sangat senang sekali menggandrunginya. Adakah sebenarnya nilai – nilai baik positif ataupun negatif, khususnya dari jejaring Facebook ini, baik bagi personal, bisnis, dan bahkan untuk pendidikan.
Dalam banyak perbincangan yang dilakukan di discussion group dan berbagai milis di dunia maya, tersibak bahwa Facebook juga menimbulkan sisi negatif, hal itu dapat terlihat dari maraknya beberapa pekerja dan para siswa yang sebagian menggunakan waktu efisiennya untuk mensetup ulang statusnya di facebook ataupun bercuap-cuap pada jam kerja, hal ini memanglah di rasa mengganggu bagi para instansi perusahaan , sekolah ataupun lainnya. Namun dari kejadian ini setelah dicari dengan data yang akurat terlihat bahwa sebagian dari mereka ternyata adalah sebagian orang yang tidak mengetahui cara penggunaan teknologi secara tepat guna, jadi sisi negative Facebook muncul karena perilaku manusia yang tidak sebagaimana mestinya.
Diluar sisi negatif itu, facebook sebenarnya tetap memiliki banyak manfaat, jauh lebih banyak ketimbang mudharat-nya. Sebagai bukti akan nilai positif Facebook ini, khususnya bagi dunia pendidikan, dapat dilihat yaitu akan tersedianya beberapa sarana dan fitur yang ada dalam Facebook. Lantas bagaimana sebenarnya cara memanfaatkan facebook sebagai sarana pembelajaran / pendidikan ini dilakukan ?
Kegitan mensurving Facebook dalam kegiatan pendidikan adalah dengan cara menjalankan beberapa aplikasi fitur-fitur berikut ini ,seperti : Facebook Share, Ini merupakan fitur dasar di facebook. Fitur ini pastinya juga bisa digunakan sebagai sarana untuk membantu pembelajaran. Siapapun bisa men-share apapun (tulisan singkat, link, gambar, video dsb) ke semua teman-temannya.Facebook Quiz, saat ini sudah banyak quiz-quiz yang beredar di facebook. Rata-rata hanya quiz yang dibuat untuk sekedar iseng. Fitur ini sejatinya bisa dipakai untuk melakukan quiz online. Sang guru bisa membuat quiz-nya dengan mudah kemudian menyuruh seluruh muridnya untuk mengerjakan quiz tersebut.Facebook Note, Dengan sarana ini sang guru bisa memancing murid-muridnya saling berdiskusi mengenai topik tertentu. Sang guru cukup membuat note disana kemudian men-tag seluruh muridnya untuk memancing diskusi. Facebook Apps, Dengan fitur ini hampir segalanya bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah game edutainment pada platform facebook Apps ini. Salah satu contoh Facebook Apps game edutainment yang cukup terkenal dan banyak dimainkan adalah Geo Challenge. Sebuah aplikasi game untuk menguji pengetahuan geografis dari pemain-pemainnya.
Paling tidak itu empat contoh pemanfaatan facebook sebagai media bantu pembelajaran. Tentunya pemanfaatan facebook ini pasti akan digandrungi oleh para murid karena disana mereka bisa belajar sambil bersenang-senang. Kelebihan bagi para guru adalah dalam tingkat jejaringnya, misalnya seorang guru meng add / submit teman guru lain atau menjadi fans dari Perhimpunan Guru Sulawesi padahal Sang Guru berada di Jogjakarta, akhirnya mereka dapat dengan mudah bertukar informasi yang sedang hangat. Akhirnya memang kembali lagi pada pribadi masing-masing atas kecanggihan-kecanggihan teknologi yang akhir-akhir ini sering bermunculan. Setidaknya kita tahu dan bisa menggunakannya untuk segi positif, apa lagi para guru adalah mungkin merupakan suatu jawaban untuk memajukan pendidikan di negeri ini.

Restrukturisasi Pendidikan Agama, Kubur Paham Terorisme

Terorisme , sebuah fakta yang sudah menggejola dan tak dielakkan lagi peredarannya sampai saat ini. Seperti kita ketahui jalur utama paham terorisme yang berkembang ternyata tidak lain juga melalui jalur pendidikan. Bahkan tidak tanggung-tanggung kedok yang digunakan adalah jalan jihad berbasiskan agama. Pilar pendidikan pesantren pun sebagai soko guru moral agama bangsa tak luput menjadi media empuk yang menjembatani berkembangnya gerakan terorisme. Banyak kalangan terdidik dengan berbagai latar belakang dan IQ tinggi menjadi korban, dan secara tidak sadar telah menjadi bagian dari anggota jaringan terorisme. Sungguh disayangkan memang , betapa masa-masa untuk meniti karir masa depan tapi ternyata telah teracuni paham virus terorisme seperti seakan tak sadarkan diri dan dengan ikhlasnya rela berkorban dengan mengorbankan segala-galanya.

Menurut pakar Peneliti terorisme Al Chaidar dalam wawancara di TV yang mengatakan bahwa para bomber itu dipilih dari orang-orang yang gelisah, labil, sedang ada persoalan. Kurang memahami agama dengan benar, kemudian dipengaruhi secara psikologis agar mau mati syahid dan dijamin akan masuk surga. Abu Wildan, teman baik Noordin M Top mengatakan istilah tersebut sesuai dengan keyakinan si bomber. “Karena dia akan meninggal dunia, kalau merasakan akan syahid, mungkin diterima disisi Allah, otomatis masuk ke surga firdaus.”

Dalam pemberitaan seperti disinyalirkan Ahmad Kusaeni, yang me-refer tulisan David Brooks atas hasil investigasi wartawan Pakistan Nasra Hassan yang mewawancarai 250 orang yang merekrut dan melatih para calon pelaku bom bunuh diri di Palestina selama kurun waktu dari tahun 1996 sampai 1999, Calon pengebom itu  dikelompokkan ke dalam sel-sel kecil dan diberikan ceramah agama serta melakukan ritual ibadah yang intensif. Mereka diajak untuk melakukan jihad (meski pemahaman akan jihadnya menyesatkan),  dibakar kebenciannya terhadap musuh (biasanya simbol-simbol Barat dan pendukung Israel) dan diyakinkan akan masuk surga sebagai balasan tindakannya. “Pengebom bunuh diri dicekoki bahwa surga terbentang dibalik detonator pemantik bom dan ajal kematian akan dirasakan tidak lebih dari sekedar cubitan (yang sama sekali tidak menyakitkan),” tulis Brooks.

Mereka diingatkan secara terus menerus bahwa hidup di dunia itu fana, sementara, banyak penderitaan, cobaan dan penghianatan. Yang abadi adalah di surga dimana ada 72 bidadari yang menunggu dengan penuh cinta. Mungkin karena akan bertemu dan menikah dengan bidadari di surga itu, maka si calon pengebom bunuh diri disebut sebagai pengantin. Lalu saat bom meledak dan nyawa si pelaku melayang disebut sebagai “perkawinan”, yakni pertemuan antara jiwa si pelaku dengan sang bidadari.

Fareed Zakaria menyebutkan juga bahwa kini terdapat kaum muda yang kebingungan, dengan satu kaki di dunia lama dan kaki lain di dunia baru, sekarang ini mencari alternatif yang lebih murni dan sederhana. Ledakkan anak-anak muda yang gelisah disebuah negara adalah berita buruk. Ketika disertai dengan perubahan ekonomi dan sosial, biasanya akan menghasilkan politik protes baru. Hasil penelitian Dr Yusef Yadgari menyebutkan bahwa sebagian pengebom bunuh diri dilandasi oleh keputusasaan dan mereka umumnya datang dari kelompok masyarakat yang miskin dan marjinal.

Kini, bagaimana kita menyikapi sebuah upaya pengaruh yang menggunakan dalil-dalil  agama Islam tersebut ? Tanggapan terhadap kelompok teroris ternyata tidak bisa hanya diserahkan kepada polisi saja, Bagaimana sebenarnya peran pendidikan agama dan moral di sekolah dan pesantren di saentro negeri ini bergeming ? Maksimalkah system pendidikan agama sekarang ini, dengan kenyataan banyak para aktivis intelektual dan pemuda pelajar kita menjadi dayang pelaku terorisme.Ini bukanlah masalah kecil, bila kita telusur atas permasalahan terorisme yang menggunakan dalil agama tersebut maka sudah sepantasnya system pendidikan agama yang berkonsekuensi menimbulkan keyakinan tinggi pun harus mampu menjadi alat untuk mengubur paham terorisme tersebut.

Sudah saatnya system kurikulum pendidikan agama yang sesuai agar menganjurkan untuk  memasukkan standar isi maupun ( indicator )  pendidikan anti terorisme di samping juga anti terhadap permasalahan mengemuka lainnya seperti korupsi, pembunuhan, penipuan, bunuh diri, dan lain sebagainya. Para pelaksana alias guru juga dirapkan selalu tanggap atas isu  global yang menggejola. Apabila system standar isi itu memang mampu diterapkan oleh para pendidik kita, dengan berbagai model konsekuensi pembelajarannya di kelas niscaya diharapkan akan tumbuh keyakinan dan pandangan yang benar akan paham paham yang bermasalah.Dan pada akhirnya penulis hanya berpendapat bahwa sudah menjadi tugas para pemerhati pembuat kurikulum dan pelaksana pendidikan agar bisa melakukan perombakan kurikulum dan merekstrukturisasi ulang, khususnya pelajaran agama sebagai bentuk kurikulum yang mengikuti perkembangan zaman.