Puisi Anak SD Menangis Untuk Bangkit

Ini adalah hari kelam tahun 2013 yang tanpa diduga ternyata memang membawa kesialan dalam sejarah hidup ini. Ini adalah 8 bulan untuk mulai menulis lagi ternyata sungguh berat, Rasa sakit ditipu dibohongi dan dikhianati ternyata seperti inilah rasanya,tak terasa hampir 8 bulan sudah perjalanan dengan mafia mafia syetan itu telah berjalan, satu yang bisa diambil hikmah dari kepahitan ini adalah tak semua orang baik itu ternyata baik, dan tak semua orang jahat itu jahat. Hal ini benar benar terbukti pada perjalanan kelam 2013 dimana salah satu portofolio Ahewa di cabik cabik oleh manusia biadap yang tak berperikemanusian, tapi apa dikata memang ndak ada guna menangis, ….sudah tak ada artinya …wahai blogku yang malang maafin aku selama ini tak pernah mengisimu lagi. Baru malam ini kucoba lagi untuk menulismu …aku sudah kangen kepadamu lagi…, Bersiaplah engakau untuk kembali berkibar sperti masa masa kemarin.dan untuk Tuhan ku aku memohon kepadaMu:

Ya Tuhan , Ya Allah ku …
bukakanlah pintu biru itu untukku
agar aku bisa mengenalMu lagi seperti dulu
Ampuni kebingasanku, ku bertobat lagi…

Berikan kesempatan sekali lagi buat hatiku ini Ya Allah Ya Tuhanku

Kumpulan PUISI Anak SD JILID II

PUISI ANAK SD AHEWA VERSION, Mohon bagi yang mau mengcopy Puisi2 di bawah ini untuk  mencamtumkan sumbernya, yaitu ahewa.wordpress.com , mari kita basmi pembajakan///….karya cipta…

Puisi di bawah ini sengaja saya tulis untuk pusbuk, selebihnya untuk anak-anak yang tahu diri jauh dari sikap berandalan dan membabi buta/// mereka siswa berpredikat istimewa .Mohon maaaf kekurang jelasan , spasi antar bait, karena belum sempat di edit di web imi, di bawah ini adalah versi wordnya :

1. Max Havelaar

Buku berjuta isi tercipta darimu

Oh Multatuli pembawa benderang

Kau lah lawan tapi juga kawan

Kau kawan penerang kami di atas

jalannya kerja rodhi itu

Kau gegerkan negaramu sendiri

dari atas tanah kami

Kau menoreh belas kasihanmu

Hingga akhirnya kami pun tak berkelanjutan

dalam  asa rodhi itu

 

2. Kapten Pattimura

Kapten sungguh aku berbangga hati

Hormat padamu kapten dari Maluku

Jutaan rakyat Indonesiaku kini mengenang

Jutaan jasamu yang benderang

Kau torehkan garis keberanianmu

Melawan cambuk-cambuk

di benteng Victoria

Kau lawan keganasan pecut-pecut itu

Walaupun akhirnya engkau harus rela

 

menancap di tembok Victoria itu

Keberanianmu kini membawakan bekas

pada kami untuk ikut dalam lenteramu.

 

3. Puputan Margarana

Hukum tawan karang kau tak berlaku

Biarlah kau meledak di tanah Dewata

Kami lebih suka karena kami punya kebebasan

Buleleng kau jadi lautan merah

Jutaan pedang bersimbah

Jutaan peluru bertumpah

Kau alirkan darah di tanah kami

Biarlah puputan menjadi saksi kekuatan kami

Di bawah tangan jelantik

Kami akan menghabiskan titik merah terakhir ini.

 

4. Amukti Palapa

Amungkubumi mahapatih berpetuah

Mengucap seribu janji

Membawakan Hasta Dwipa Nusantara

Gajah Mada benar –benar telah membuka

Negara kertagama Pancasila

Bersatukan Bhineka Tunggal Ika

Dalam wadah Indonesia

Ayolah para amukti kita bergulir

Bergandeng  tangan kanan dan kiri

Menancap di bumi Indonesia.

5. Romusha

3,5 tahun kau menancap

Di bumi Indonesiaku

Menorehkan barisan-barisan

tak berbelas kasihan

Seberkas sarung goni melekatku

Seuntai cambuk membara menemaniku

siang dan malam

Tangisan-tangisan malam menjerit

Merintih kesakitan menahan pecut

Ku tak masuk sesuap nasipun

Hingga mati itu datang merajut  kepadaku

 

6. Batavia

Batavia..oh… Batavia negri berjuta serbu

Nikmatmu membawa pikat

Lenteramu menoreh sejarah

Di kala itu sang kincirpun datang

dari negri seberang

Membawa maksud untuk mengepung

Menyimpan udang dibalik batu

Sungguh berkemauan membabi buta

Tak henti-hentinya mereka mengepung

berbagai mutiara rempah-rempahku

Di pelataran negri loh jinawi ini

kami sungguh tak berkutik

ikut menyaksikan

lembaran kisahmu  tuk menjadi

Batavia Sunda Kelapa

Ibu kotaku Jakarta

 

7. Rengasdengklok

Di kotamu aku diculik

Di kotamu aku ditahan

Di kotamu aku disandera

demi Indonesia

Di kotamu aku berfikir

Di kotamu aku berjuang

Di kotamu aku menyusun

Strategi Indonesia Merdeka

Barisan barisan pemuda berpenampilan

Barisan barisan pemuda berkeberanian

Tuk satu Indonesia Merdeka

 

8. Bandung Lautan Api

Kami dengar ultimatum bergeming

Mengajak kami bergolak

Mencabik-cabik  bumi Bandung Selatan

Letakkan senjatamu

Kumpulkan di tempatku

Kosongkanlah tempat ini

namun kami tidak mau

Pilih..kami akan pilih… berperang

Di ibukotaku periangan

Ibu kotaku kenang-kenangan

 

9. Agresi Militerku

Dari tanahku tercinta

Kami akan mati bersandarkan peluru

Menepis jejak-jejak gerilya

Bertemankan kabut senja

Belanda telah muncul tuk kedua kalinya

Berancamkan meriam

Oh…kami tidak takut

Kami akan tetap terus

beragresi,bergerilya, sampai

merdeka tiba

 

10. Meja Bundar

Roem-Royen kau tak hasil

Oh..Den Haag kami kan datang

Bersaksikan meja bundar

Di bawah Muh hatta

Berlawankan Maarseveen

dan Chritchley

Kami kan juangkan

Indonesia berdaulat

Tuk kembali merdeka

 

11. Kemerdekaan Indonesia

Aku bisa tertawa

Aku bisa bergaya

Aku bisa berpesta

Aku bisa tamasya

Karena Indonesia telah merdeka

Kemerdekaan yang mahal harganya

yang tak dapat diukur dengan harta

sekalipun segunung, sepulau bahkan sebenua

Kini kewajibanku sebagai anak bangsa

Belajar tekun untuk membangun bangsa

Agar nanti menjadi negara yang kaya raya

 

Aku ingin….

Pahlawan yang telah gugur dahulu

dapat tertawa lega melihat anak cucunya bahagia

Mereka dapat tidur nyenyak di sisi-Nya

 

12. Buat Ibu tercinta

Ibu,

kala aku beranjak dewasa,
kala aku membutuhkan tempat bertanya,
kenapa Ibu pergi?

Ibu,
ibu tahu tidak kalau aku sedih?
ibu tahu tidak kalau aku takut?
tapi kenapa Ibu pergi?

Ibu,
bicara dong, kenapa cuma diam saja?
memang beban ini cuma milikku saja?

Ibu,
kalau memang begitu adanya,
doakan aku supaya kuat,
doakan aku supaya bijak
dan tidak terinjak-injak…

 

Dari putrimu
yang sangat menyayangi,
merindukan,
dan membutuhkanmu….

 

13. Perjalanan Jarum Jam

Kupandang kau bergerak

Mengikuti putaran yang menjingkrak

Putaranmu searah dan tak

pernah berbalik arah

Mengapa kau tidak pernah berbalik ?

Ataukah memang tak ingin kembali

Ku lihat sekali lagi kau tetap begitu

dan tetap begitu saja

Dan ku tahu apapun yang terjadi

Kau memang tetap begitu

Sungguh pendirianmu begitu kuat

dan tak ada satupun yang  menyamaimu

 

14. Sumpah Pemuda

Wahai para pemuda pendahulu…..

Yang telah hidup puluhan tahun berlalu

Yang telah membuat semua bersatu

Mengabadikan lentera nusantaramu

Di kala sekarang telah tiada

Gema janji sumpahmu tetap masih meraung

Meraung keras di seluruh penjuru sudut bangsa ini

28 oktober, karenamu pemuda Indonesia melebur

Menjadi sebuah pedang yang diasah tajam

Dan siap di gunakan untuk mengisi kemerdekaan ini

Terima kasih sumpahmu

28 oktober kan kugemakan slalu sampai nanti

mentari tenggelam di seberang timur

 

15. Petualang Kecil

Jalan merayap, jalan merangkak

Berdiri tegap, berbadan kuat

Melewati belantara terjal pegunungan

Menemani nuansa riuh berkicaunya burung

Mengalahkan kejamnya tantangan alam

Sang petualang kecil bertoreh keberanian

Tak pernah takut ataupun sirna

Melawan kesegala mara bahaya

Yang bermunculan di jalanan

Dan bila haus mendahagakan

Mengeringkerontangkan tenggorokan

Kau tetap menggeliat

Mencari timbunan asamu yang masih terpendam

16. Ramdlan Ku Sayang

Kau datang dengan segudang harapan

Di tengah penantian berjuta manusia

Senyum suka cita pun mencuat dari mulut mulut kecil

Dan bila kau pergi keramahan tiada lagi

Tangis sedih mewarnai kehilanganmu

Tak’da lagi lantunan lantunan kecil

Yang menyejukkan hati

Penenang jiwa nan gundah

dari hasil tilawah yang menggugah

 

17. Sepertiga Akhir Malam

Kubuka di kecoklatan depan rumah

Kusaksikan langit begitu berkilauan

Dihiasi gugusan bintang

Sungguh hatiku pun ikut senang

udara dan pikiran begitu lengang

di sepertiga akhir malam

Kulawan dan kukalahkan udara dingin

Air wudlu pun menembus membasahi kulitku

Dalam sujudku kupanjatan doa kehadiratMu

Jadikanlah bangsa ini,

Bangsa yang aman ,tenteram

dan sejahtera

Bangsa yang menghidupkan

akhir sepertiga malam itu

 

18. Istana Langit

Memandang ke angkasa lepas

biru,putih bahkan abu-abu

warnamu menampakkan

Tak terbayang jika manusia

berpijak di atasnya

Apa yang akan dirasa,

senang, gembira pasti bahagia disana.

Memang manusia tak berhak tinggal

Apalagi tidur di istana langit

Hanya Tuhan sang pencipta alam

Yang menguasai jagad raya,

Yang bersemayam didalamnya

Untuk mengatur kehidupan ini

sampai kiamat nanti tiba

 

19.  Sinar Mentari Pukul Sepuluh Pagi

Pukul sepuluh pagi aku berdiri
berjalan dan lalu berlari,
di bawah sinar mentari.

Panasnya menusuk kulitku,
dan menyilaukan mataku,
namun tenang menembus hatiku.

Ingin ku utarakan semua
biar dunia tahu,
aku bangga sebagai makhlukNya!

Terima kasih,Tuhan
Kau masih biarkan aku terbangun hari ini
Kau masih ijinkan hidungku bernafas hari ini
Kau masih memberikanku hidup hari ini
Sehingga aku masih dapat menikmati

karuniaMu yang terindah

dalam permata yang terus bersinar

 

20. Tuhanku Aku Mengadu

Aku kecil di kala dulu berada

Tak satupun tahu hasrat yang kusimpan

Di saat waktu terus berputar

Di kala usia bertambah angka

Tuhan bolehkah aku bicara padamu ?

Sekarang aku sudah besar

Detik demi detik kulewati bersamaMu

Senang dan sedih kulalui dengan mengenalMu

 

Tuhan aku punya hasrat

HambaMu punya timbunan cita –cita

Wujudkanlah di kala aku besar nanti

Tuhan, ku percaya engkaulah pengatur jagad raya

penentu segala takdir ini

 

21. Mu’jizat Di Atas Doa

Segudang harapan manusia

tersimpan dalam kata – kata

Terpanjatkan bersama untaian suara

yang berisi harapan tuk kehidupan

Untukmu para siswa Indonesia,

untaian harapanmu  tersimpan dalam doa.

Terus dan teruslah berdoa

mendekatlah kepada sang pencipta

Kuasa ada bersamaNya

Tak perlu kau resah

pabila harapan tidak terwujudkan

Janganlah berputus asa dan tetap berdoa

karena doa adalah mu’jizatNya

 

 

 

 

22. Seperti Bintang

Kutatap langit nan berkilau di kala malam

Kusaksikan gugusan bintang begitu bercahaya

Cahayanya  begitu indah

Sinarnya sungguh menggugah

Oh, Bintang daku ingin seperti dikau

Menjadi pelita terang di kala gelap

Membuat penyejuk hati untuk setiap insan

Oh, Tuhan sungguh kuasaMu begitu sempurna

Engkau ciptakan hiasan maha sempurna

Sebagai pelengkap dunia di kala kelam

Sebagai permata berlian bagi setiap mata yang memandang

Oh, Tuhan izinkanlah aku bersinar seperti bintang

 

23. Nyiur Hijau

Nyiur hijau di tepi pantai

Bang kuning meraya

Siur siur daunnya melambai

Burung-burung berpada menyanyi gembira

Tanah airku tumpah darahku

Tanah yang subur kaya makmur

Tanah airku tumpah darahku

Tanah yang indah permai nyata

 

24. Awan

Kulihat awan seputih bunga melati

Kesana kemari dilangit luas

Andai saja aku bisa menggapainya

Agar aku bisa melihatmu

Akan kuraih bila aku dapat

Akankah aku bisa menggapainya

Aku akan berusaha

sekuat mungkin……

sekuat mungkin…..dan

sekuat mungkin…..

 

25. Bungaku

Oh Bunga……

Engkau mekar di taman beraneka warna

Merah dan putih selau berseri

Mawar dan melati berwarna warni

Di atasmu penuh kumbang dan kupu

Menari, menyanyi dan menghirup madumu

Bagaikan mimpi dikhayalku

 

 

 

 

26. Bocah Jalanan

Langit, bapaknya

Bumi, ibunya

Alam,pekarangannya

Raga,rumahnya

Waktu,menggelindingkannya

Sampai jiwa kembali padaNya

Berangkat pagi diterpa angin

Menyibak kabut bertaruh nyawa

Untuk menyambung hidup hari ini

Belajar dari binatang buas

Memburu rejeki lewat apa saja

 

27. Mentari

Hai mentari pagi

Hari ini kau datang tampak cerah sekali

Engkau datang tiap hari

Untuk sumber energi pribumi

Semua orang berlari pagi

Untuk menyehatkan diri

Tanpa kau, hai mentari

Di seluruh bumi ini

Akan mati tiada lagi

 

28. Berguru Pada Semut

Hitam, merah berjalan merayap

Menyelinap mencari celah

Mencari makan.

Hitam dan merah tak pernah gerah

Menjunjung makanan bersama sama

Membawa masuk ke istana raja.

Berpesta bersama dalam semangat

yang tetap mempesona.

 

29. Indah Nian Desaku

Kulihat sawah membentang
Warna hijau bagai permata alam
Ku coba telusuri jalan
Akankah tetap begitu ?
Kuingin tetap begini
Terlihat apa adanya
Kuingin tetap begitu
Terlihat kenyataannya

Mentari mulai tenggelam
Dan…akupun tetap disini
Menikmati alam yang ada
Anugrah dari yang kuasa

Oh…..alam desaku
……aman dan damai

Oh…..alam desaku
……lestarikanlah

 

30. Kali Code

Di keindahan Jogjakarta

Kau terhampar  uliran ular

Kau belah kawasanku

Memanjang utara selatan

Erupsi Merapi kau ikut

Sampah rumah kau ikut

Limbah pabrik kau ikut

Kotoran manusia kau ikut

Kau memang hebat

Tapi di kehebatanmu  aku kasihan

Kau sepertinya tak kuat

Tak kuat untuk itu

Pantaslah bila kau sapa aku

Dengan bah airmu

Aku tahu,…. kau pasti marah padaku

Aku minta maaf !

 

 

31. Kisah Merapiku

Kuterlelap di ketiduran malam

Memejamkan mata di semak belukar

Gemuruh merapiku menggelegar

Gemuruh merapiku menggetar

Oh…ternyata engkau tidak bercanda

Oh….ternyata engkau tidak tertawa

Janganlah engkau terbatuk-batuk

Janganlah dikau bergoyang

Wahai Merapiku……Kasihanilah aku

Cukupkanlah badanmu bergoyang

Hari ini saja, kami sungguh takut

Untuk mengulang yang kedua kalinya

 

32. Kilatan  Petir

Hari ini aku melihat kau mengangkasa

Merambat riuh di awan

Bersama butiran hujan

Ke bawah bumi kau sambar

Ke atas bumi kau gemelegar

Kilatmu sungguh aku takut

Cahayamu sungguh aku ciut

Kuat berkasmu menerjang belantara

Lakumu patut tuk ditiru

Bersama semangatmu yang lugu

Ku kan bawa laku itu sepertimu

 

33. Bencana Melandaku

Lewat suara gemuruh diiringi debu bangunan yang runtuh

Tempatku nan asri terlindas habis

Rumah dan harta benda serta nyawa manusia lenyap

Kau lalap habis aku kehilangan segalanya…..

Mata manusia sedunia terpengarah, menatap dan heran

Memang kejadian begitu dahsyat

Bantuan dan pertolongan mengalir

Hati manusia punya nurani

Tuhan , mengapa semua ini terjadi ?

Mungkin kami telah banyak  mengingkariMu

Mungkin kami terlalu bangga dengan salah dan dosa

Ya, Tuhan ampunilah kami dalam segalanya

 

34. Bertolong Menolong

Satu batu besar sebesar gunung

terangkul berpuluh puluh tangan

tetaplah tak terjengkal

Namun andaikan semut itu

dengan begitu kecilnya

berangkat bertaut pijak

bergotong gotong dalam ketangguhan

benda sebesar gunungpun pasti’kan terangkat

Manusia menahan keluh

terus berbasuh peluh

dan tetap saja tak bisa mengangkat

jika tangan tak tergandengkan

sekuat pagar yang membentengi rumah

 

35. Ku Suka Diriku

Hebat aku adalah hebat

Bergelora sakit

Berkejora sedih

Menghalau pilu di sana sini

Tetaplah aku tidak akan berganti

Wajahku tetap lugu

Lakuku juga tetap

Tiada daya yang merubah

Tak ada pikat yang menggiur

Karena aku suka pada diriku

 

36. Bangunlah

Di tengah gemerlapan cahaya

Diantara tarian-tarian malam

Mereka terlena dan lupa

Atau sengaja lupa akan budaya bangsa

Tertutup oleh pesona luar

Yang bukan milik kita

Wahai ………..anak bangsa

Dengar……… dengarkanlah

Sisihkan hati untuk negeri ini

Cintailah budaya sendiri

Sebenarnya kita punya banyak pesona

Pesona yang dapat dibanggakan

Inilah budaya daerah, budaya bangsa

Wahai…….bangsaku

Bangunlah dari tidur lelapmu

Hapuskanlah dari mimpi-mimpi kosongmu

Berjuanglah !

Jangan biarkan budaya dicuri negeri orang

Ia butuh perhatian

‘tuk diperjuangkan dan dilestarikan

Agar tetap jadi milik bangsa

Bangsa yang besar

Bangsa  Indonesia

 

 

 

 

37. Puncak  Jayawijaya

Tebing tebing terjal

Tertaklukkan sang pendaki

Berhari-hari menahan rintihan

Menahan siksaan dinginnya

salju terasa puncak  Jayawijaya

Setapak demi setapak

kaki bertautan menahan pijak

Melawan terjalnya tantangan

alam jayawijaya

Berlama lama melintas

Menanjak, meliku,mengganjal

Guliran kaki yang menghentak

Sedikit demi sedikit

Dengan pelan lagi pasti

Sang puncak telah terlihat

Haru membahagia membahana

Bendera menancap pada sang raja

pegunungan Jayawijaya

38. Pelangi

Pelangi……pelangi….pelangi……

Warnamu indah berseri

Merah kuning, hijau,itu warnamu

Disinari oleh mentari

Semua orang menyukaimu

Kau pelangi terindah disini

Inginnya aku melihatmu setiap hari

Dan disertai burung burung terbang tinggi

menancapkan asaku di awan tinggi

 

39. Sang Juara

Dia bukanlah keberuntungan

Mereka tiadalah orang yang berkejora

Dia dan mereka hanya bergelora

Di saat pertandingan tiba

Hatinya adalah mesin

Berputar terus menerus

Tiada henti

Dalam kemunduran

Tetaplah menampakkan dan menghadiahkan

Kemenangan yang tiada henti

 

40. Balada Dua Bocah

Dua bocah dalam rumah kosong

Berkelakar dan tertawa riang

Tuk usir lapar

Yang merongrong

Selama menunggu ibu bapak pulang

Mengkais rejeki disetiap peluang

Dua bocah dalam rumah kosong

Lelah bermain selepas petang

Berbaring di lantai sambil menerawang

Sementara ibu bapak terus berjuang

Abaikan dahaga dan terik yang memanggang

Dua bocah dalam rumah kosong

Sama mimpi lihat makanan terhidang

Lalu dilahap hingga perut kenyang

Tepat di saat ibu bapak genggam menang

Segera bawa buat buah hati sayang

Tapi bocah sudah meregang

Paras mereka tenang

 

41. Indonesiaku

Angin berdesir di pantai

Angin berdesir sepoi-sepoi

Burung pun ikut berkicau dengan merdu

Di atas pantaiku

Sawahnya yang hijau terbentang luas

Gunungnya tinggi menjulang

Itulah Indonesiaku

 

Disanalah aku dilahirkan  dan dibesarkan

Di sanalah aku akhir menutup mata

 

42. Piknik ke Angkasa

Bila burung mengangkasa

Dan mata memandang

Hati pun pasti ikut terngiang

Oh……Tuhan kenapa bisa begitu ?

Kenapa manusia hanya begini ?

Bukan maksud hati untuk membanding

Tapi ……andaikan ku punya sayap

Pasti ku kan terbang lebih ,lebih dan lebih

ke atas sampai ke angkasa luar

Mungkin rumah juga ku bangun di sana

Dan ku tinggal di luar angkasa

menggapai cita yang membahana

 

43. Kupu-Kupu Pun Mengerti

Ketika kupu-kupu bergerak

Mengikuti harumnya aroma bunga itu

Ia tak tahu bahwa sekarang telah bisa terbang

Menikmati indahnya awan angkasa

Apakah kau mengerti dulu kau adalah ulat

Dengan segala keganasanmu

Kau makan daun daun muda kesayangan pak tani,

dan kau sangat jijik , kotor lagi menakutkan

Tapi sungguh ajaib Tuhan menciptakan

Kau bekali dirimu dengan metamorfosa

Dan kau tidak makan, menahan haus dan dahaga

Di dalam kurungan hijau yang tergulung- gulung

Ketika waktu tiba kau rubah dirimu jadi makhluk maha sempurna

Berpenampilan molek dan menawan

Membawa bahagia bagi siapa saja yang melihatnya

 

44. Kunang-Kunang

Saat malam tiba

Gelap pun membumi

Menutupi hingarnya dunia siang

Ada satu yang menakjubkan kalbu

Kunang-kunang beterbang ke kiri dan ke kanan

Melintas mata manusia

Membuat otak memutar pikir

Memberikan pertanyaan

Mengapa engkau memiliki benderang

pencipta terang di kala malam ?

Sadar semua berpikir

Hanya Tuhan yang maha tahu

Semua itu

45. Terlambat Sekolah

Burung telah bernyanyi di kala pagi

Menyanyikan lagu semangat tuk menanti hari berseri

Dan bedalah manusia dengan burung itu

Di balik selimut manusia bersembunyi

Menyenyakkan diri melupakan kewajiban hati

Aku tidaklah beda masih demikian

Kemalasan telah meracuniku

Hingga aku tak bisa berbuat banyak

Kesekolah tidak bisa datang tepat

Aku kalah dengan seekor burung

Hingga malupun aku dapat

 

46. Pengemis-Pengemis Kecil

Ditengah persimpangan warna warni

Di banyak kerumunan besi berasap

Tersaksikan tangan tangan kecil menengadah

Meminta belas kasihan pada sang raja jalanan

Bertalu talu berada di bawah mentari

Menahan hausnya rintihan hati

Mengharap ada yang memberi

Tak pernah lusuh walau dilakukan setiap hari

Sungguh, membenakan hati dirimu itu terlukiskan

Namun siapa gerangan bisa berbuat

Tuk’membalikkan telapak tangan

tentang keberadaanmu itu berada

 

47. Sepak bola

Oh…., sungguh senangnya aku bermain

hingga waktu pun aku lupakan

Berlari, menyerang, menyerbu lawan

membawa bola lari masuk ke gawang

Oh…., sepak bola siapa gerangan engkau mencipta

Keberadaanmu membawa angin segar dunia

Semangat didalammu membawakan kobaran gelora

Oh….., sepak bola apa dikata engkau tiada

dunia sepi…!, sunyi… !, suram…. !

bak kota mati yang ditinggal pergi

 

48. Irama Nusantara

Meliuk, membentang, dan menggejola

Perihalmu menampilkan

Pabila satu, pabila dua, pabila tiga

Itu pastilah berbeda

Sedikit orang yang memperlihatkan

Apalagi mengerti perihalmu beda itu

Tak sedikit darah yang ditumpahkan

ataupun harta dikobarkan

Tuk menebus gejolak iramamu itu

Memang hanya satu yang dapat

meredam ,meluluh, bahkan menyirnakan

Pabila persatuan tertancapkan di irama nusantaramu

 

49. Alamku Surgaku

Zamrud khatulistiwa, kau adalah surga

Fenomena alam Indonesia begitu menawan

Orang Arab sering berkata

oh Indonesia, ini adalah surga dunia,

tempat tak ada dua di dunia

Namun mengapa alam surgaku mulai hilang

mulai terkikis oleh hingar – bingarnya dunia

dan juga kejamnya nafsu manusia

Oh Tuhan janganlah kau ambil alam surgaku

dan sadarkanlah kami untuk membelainya

dengan penuh kasih saying

 

50. Rumah Impian

Rumahku……

Sawah hijau terbentang luas

Gunung-gunung menjulang tinggi

Yang selalu menemaniku di kala pagi

Rumahku …..

Sungai nan jernih sungguh mempesona

Padang rumput penuh canda ria

bocah-bocah gembala

yang selalu membuatku terpesona

Namun…..

Kemanakah rumahku itu ?

Hilang dalam waktu sekejab

Berganti dengan pabrik-pabrik penuh asap

Oh…. Apa ini hanya impian ?

Walaupun ini hanya impian aku tetap akan terpesona

 

51. Bangunlah Ibu Pertiwiku

Kami saksikan suasana luka lara

menerpa Ibu Pertiwi

Kami tak habis pikir

Apa gerangan engkau bersedih

Mengapa keadaanmu begitu mengkhawatirkan

begitu mencemaskan

Kami tahu kami begitu durhaka

Tak pernah berbakti kepadamu

Kerusakan, perpecahan, pertikaian

,banyak kami lakukan

Dan hanyalah maaf yang dapat kami pinta

Selagi engkau masih mau menerima

Di hati kami tak ada bisikan selain minta maaf ,

dan menyaksikan engkau bangun

melawan keruntuhan itu

 

52. Lagu Hati Anak Difabel

Tak tahu entah apa dirasa

isi jiwaku tidaklah sesempurnamu

Kau punyai kebahagiaan lengkap

seindah kemolekan bunga

Ku tahu itu pasti mempesona

bagi siapa saja yang mampu

merasa dan mendayanya

Entah mengapa diri ini

merintih dan mengiba pada keadaan

Keadaan dimana aku tak sesempurnamu

Aku hanyalah sisa kesedihan

di mata orang lain

Banyak orang tak merasuk ke jiwaku

Dalam asa kepedihan ini

Itu karena hanya aku yang mampu mendayanya

Andaikan begitu adanya

irama hati ini akan tetap bersujud syukur kepadaNya

Dan tetap bangkit melawan rintihan jiwa yang menggejola

 

53. Polusi

Sesak, sesak, dan sesak aku bernafas

Bau asap kendaraan begitu menyelimuti dunia

Banyak sungai telah berteman dengan limbah pabrik

Banyak pula orang menerbangkan sampah kesana – kemari

Mau jadi apa dunia ini sekarang

Semua sudah tak ‘da yang mengerti

Semua sudah tak ‘da yang mau peduli

Dunia serasa sudah tak punya arti

Memang manusia, engkau adalah pembunuh terbesar

Engkau adalah perusak terkuat

Semuanya akan rusak, semuanya akan hancur

Hanya karena satu ulahmu

tidak mau berteman dengan alam

 

54. Sampah

Begitu menggunung aku melihat kau berada

Baumu menyengat begitu terasa

Muntah, dan muntah aku melihatmu

Kenapa kondisimu bisa seperti itu ?

Memang engkau tidak salah

Memang engkaulah yang benar

Engkau bisa dioalah, engkau bisa dirubah

Engkau memiliki potensi terpendam

Wujudmu memang sampah dan manusialah yang salah

Kau sering di lempar begitu saja

Tanpa dipikirkan, tanpa dihiraukan

Karena  manusia senang bertindak tanpa otak

 

55. Terbanglah Merpatiku

Merpati sayapmu menari merajut awan
Merpati sayapmu putih suci menawan
Waktu terus mengalir bagai bengawan
Merpati teruslah menari, teruslah kawan
Mengapa matamu sayu
Pelan kedipmu terhuyung huyung
Samudera hidup masih merayu
Merpati teruslah, teruslah mendayung
Masihlah berwarna sang pelangi
Masih ada merah masih ada jingga
Masihlah kau harum mewangi
Masihlah aku padamu bangga
Hari esok sedang menunggu
Hilangkan gundah, buang gerah
Merpati bentangkan tawamu
Usir gelisah dari jiwamu
Jangan biarkan angin membawamu
Tunjukkan pada semua wibawamu

56. Kiamat

Kiamat……

Banyak kejadian aneh di muka bumi

Kiamat……

Banyak anak-anak durhaka pada orang tua

Kiamat……

Orang baik sudah tidak ada lagi

Untuk temanku yang sedang termangu

Marilah bersujud di hadapanNya

Mohon ampun belas kasihanNya

Semoga ampunan selalu dalam perlindunganNya

Membawa kita masuk ke dalam surgaNya

 

57. Tugu

Tugu…….

Engkau menjadi saksi bisu

Kehidupan dulu

Yang belum kutahu

Tugu…..

Tetap kokoh melawan zaman

Yang penuh kekerasan

Jikalau malam datang

Ku ingin sepertimu

Tetap tegar melawan kokoh yang penuh liku

58. Lagu

Kulantunkan tembang rindu

Untukmu sahabatku

Di atas panggungmu

Kumenari dan bernyanyi dengan riang

Penuh damba dan senang di dalam hati

Dengan riangnya kau mengikutiku

Menyanyikan lagu

Indah, merdu dan sempurna

Itulah wujudmu wahai lagu

 

59. Pak Pos

Biar terik atau hujan

setia datangi penerima khabar

yang menanti penuh harap

Digubuk atau gedung semua pelosok

agar tragis tak berulang

seperti beliung yang memporakporandakan

 

60. Caturku

Prajurit prajurit telah tertata rapi

Di pagari kokohnya benteng-benteng

Yang melapis tiada henti

Sang kuda telah berpetak

Sang menteri pun memutar otak

Dan semua bergegas tegak

Memetak langkah di kehitaman kotak

Menyibak menendang semak belukar

Menghalau lawan menggapai menang

 

61. Baris Baris Itik

Itik bercuap wek…wek…wek….

Bertata rapi depan belakang

Mengantri mencari makan

di penjuru sudut penggalan sawah

Sang gembala selalu berpegang tongkat

Mengacung acung memerintah menghalau

Menertibkan hewan berperimata disiplin

Dan apalah manusia menghalau diri

Tidaklah tertib

Begitu lama , begitu menjengkelkan

 

62. Bersyukur

Alhamdulillãh

Aku diciptakan Allãh

Sebagai sebaik-baik makhluk

Dengan kecerdasan majemuk

Aku diberi amanah Khalifah

Memulai apa saja Bismillãh

Mengakhirinya  Alhamdulillãh

Setiap detik ibadah Terindah

Bila besar nanti

Aku ingin menjadi

Orang paling berguna

Bermanfaat ‘tuk manusia

Di dunia bahagia

Di akhirat sejahtera

Masuk Surga

Aman sentosa

 

63. Rumahku Surgaku

Alhamdulillâh orangtuaku punya rumah

Anugerah Allâh yang Maha pemurah

Tempat kami bersyukur dan beribadah

“Rumahku Surgaku,” sabda Nabiku

Alhamdulillâh Rabb alam semesta

Menciptakan Tanah air Indonesia

Menganugerahkan untuk kita

Agar hidup makmur, sejahtera

Adil, menyembah Allâh Ta’ala

Di Tanahair dan lautan

umbuh ragam sumber kehidupan

Aneka tambang, hutan, dan hewan

Atas rahmat-Nya kita berseru…

“Jadilah Negaraku Surgaku….”

Dari Sabang sampai Merauke

Berjajar 17 ribuan pulau

Itulah Indonesia kita yang kaya

Bersatu, Bhineka Tunggal Ika

“Jayalah Bangsaku Saudaraku….”

 

64. Burung-Burung

Sungguh indah pemandangan

Langit luas dibentangkan

Tanah subur dihamparkan

Sempurnalah ciptaan Tuhan

Burung-burung terbang bebas di awan

Sayapnya dikepakkan dari dahan ke dahan

Binatang lain merayap atau berjalan

Diberi rezeki Allãh ya Rahmãn

Karena Cinta Allãh kepada Rasulullãh

Ada yang haram dan halal kita makan

Ada yang untuk kendaraan dan pelajaran

 

 

 

Allãh Maha penyayang…. Allãh ya Rahmãn….

Karena Cinta Allãh kepada Rasulullãh

Agar kita pandai bersyukur dan jujur

Sabar tidak kufur dan takabur

 

65. Dari Ku Sang Ayah

Selamat pagi anak

Ayah hari ini tak bisa banyak

Ayah hanya bisa berpetuah

Padamu agar merubah

Jika anakanda nanti besar
Tutur dan kata janganlah kasar
Janganlah seperti orang sasar,
Hingga banyak orang menaruh gusar

Buatlah lentera hati sang penyejuk

di kedamaian penjuru negri

bersama anakanda bestari

 

66. Nomorku Satu

Satu..ya..satu…itulah nomorku

Di mana-mana aku pilih nomor satu

Datang harus nomor satu

Peringkat juga harus nomor satu

Bagaikan merpati yang mencumbu

Nomor satu nomor lentera sepanjang kalbu

Siapapun pasti mau

Nomor satu nomor wasiat

Nomor para pelaku makrifat

berbasuh peluh tanpa menghujat

 

67. Maaf Ku Tak Datang

Matahari kau mengundangku.

Aku takut pergi ke matahari,

Karena itu terlalu jauh.

Bulan kau mengundangku.

Aku takut bahwa saat aku berada di sana

Orang tuaku akan merindukanku,

Dan aku juga akan merindukan mereka.

Bintang-bintang dan planet-planet mengundangku.

Aku takut bahwa ketika aku pergi ke mereka,

Mereka akan menahan aku bersama mereka

Untuk bermain dengan mereka

Dan mereka tidak akan memperbolehkan aku

Untuk pulang ke orang tuaku yang malang.

 

 

 

 

68. Aku Pasti Bisa

Saat ku menyerah
Aku coba sampai bisa
Saat ku putus asa
Aku coba berlatih keras
Saat aku kebingungan
Kucoba untuk bertanya
Saat aku bersemangat
Semangatku menyala nyala
Kucoba semua
Demi masa depanku
Hasilnya tak terkira
Aku bisa!
Aku bisa
kalau aku berusaha
Apapun yang terjadi,
aku pasti bisa!

 

69. Rumus Matematika

Tiap-tiap angka

Selalu menghiasi isimu

Tiada angka lepas darimu

Semua melekat seperti keluarga

Terkadang kau rumit bagi kami

Tetapi memang kau patut

di beri jempol

Telah membawa kami ke olimpiade

Terima kasih rumus matematika

Lembar demi lembar kami baca

Keliling,luas,dan volume

Akan kami coba untuk menghafalnya

 

70. Cenderawasih

Engkau burung dari Sorga
Hidup di tanah Papua
Bulumu indah
Warna warni
Tapi sayang
Engkau sulit dijumpai di alam bebas
Mari selamatkan Cendrawasih
Jangan sampai ia tinggal cerita

Di dunia fana ini

 

71. Slamat Pagi Tuhan

Ku buka mata dari selimut malam

Kulihat diriku masih suram

Oh..ternyata aku lupa berucap

Selamat pagi Tuhan

Tuhanku  Maha Sempurna

Kau bangunkan lagi aku

Di kala mataku masih sayu

Tuhanku  Maha Pengasih

Kau beri lagi kami nafas yang penuh kasih

Tak terhingga bagaikan

sang surya menyinari bumi

Tuhanku  Maha Segalanya

Kau beri lagi kami jalan

Menjadi manusia sempurna

 

72. Fatamorgana

Dunia penuh keasyikan

Oh dunia sempurna

Dunia kau tanda tanya

Kau dunia fana

Di sisimu kau fatamorgana

Kau beri muslihat biar kami tertipu

Rayuan-rayuanmu sungguh menyiksa kalbu

Di tempat ini kami mampir minum

Di tempat ini kami celupkan ujung jari kami

Kemudian meneteslah air itu setetes,

padahal kami ambil dari samudra

 

Kau fatamorgana

Ibarat tetesan embun dengan air samudra

Oh embun sejuk kau lah dunia

Oh samudra engkaulah surga

73. Tana Toraja

Di tana toraja ku sibak

Jutaan adat tak bertuan

Mayat-mayat bergelimpangan

Menunggu tuk di Ma’nene

Di Baruppu kau dimulai

Dari tangan Pong Rumasek

Ku mulai balut tulang belulang lagi

Dengan baju baru kau berdiri

Di iringi ma’badong kau bergoyang

Ku iringi tangis pilu

Dan kau kembali lagi dalam pa’tane

74. Malin Kundang

Malin kau pelak makmu

Kau pura lupa dulu kau dikudang

Hingga kini kau tak lajang

Dengan kawalan sang penumpang

Kau pulang……

Bawa kapal besarmu yang rupawan

Oh mak sungguh bangga..padamu

Tapi kau pura lupa….

Kau anggap siapa makmu ini…

Mak memang lusuh tak rupawan

Memang kau telah bangsawan

Oh Tuhan terkutuklah kau begitu

Kau tak anggap aku makmu lagi…

Jadilah kau batu

 

75. Upin Ipin

Betul-betul betul kita harus belajar ni Pin

Betul-betul betul kita harus bantu orang ni Pin

Hari ini tahu lah Tuhan bersama kita

Betul-betul betul ayo kita lakukan

Hay..Pin mentari bersinar teranglah

Cahyanya menembus kita

Kesian Pak tani capek panas nye

Dialah semangat pantang menyerah

Ayo kita tirulah

 

 

 

 

 

76. Planet Merah

Oh Dewa Perang kaukah di sana ?

Bertemankan Phobos dan deimos

Kau menggurita di kemerahan parasmu

Sayang ku tak bisa ke tempatmu

Kau kah sang mitologi Yunani ?

Warisan Aries dari Zeus dan hera

Oh.. sungguh menyibak kalbu

Dari gubukku kulihat titik merahmu

Begitu merona

Menyimpankan tanda tanya

Di daerahmu Cydonia Mensae

Ku harus cari tahu itu

 

77. Akulah Si Pemulung

Ku berjalan di atas jutaan sampah

Ku berperang dengan penyakit yang mewabah

demi impian nasi yang melimpah

Ku lawan mentari yang meleleh

Panaskan telapakku……

Di jejak-jejak bau pengap bertaburan

Kotoran lalat

 

 

Tak terbayang nikmatnya es krim bertaburan

Ceres yang nikmat

Ku tetap tak peduli

Aku langkah lagi kaki

Menapaki setiap  tangga

Di dedaunan sampah

Inilah hidupku, takkan terganti

Sampah adalah temanku.

 

78. Alarm Tuhan

Tuhan, kapan aku bicara padaMu

Sekarang atau besok ?

Di mana lagi ku kan mengaduh

Bila bukan di tempatMu

Banyak kesakitan terjadi padaku

Hinaan, cercaan ,sindiran bahkan lebih dari itu

Ku hanya diam

Tuhan alarmMu telah berbunyi…

Bolehkah aku meneleponMU

Ku benar butuh bantuanMU

tuk menyingkirkan batuku

 

 

 

79. Tuhan Pasti Marah

Tuhan kemarin aku berbuat dosa

Dari ujung mata sampai ujung kaki

hari ini telah terlibat ,

Tuhanku aku minta ampun

Tuhan hari ini masih saja

Aku ulang lagi dosa yang tlah ku minta ampun

Bahkan itu sengaja aku ulangi lagi

Ku tahu engkau pasti marah padaku

Tuhanku aku minta ampun

Tuhan besok sepertinya dosa itu

Akan bertamu lagi padaku

Oh aku tak kuasa

Tuk menghentikannya

Tuhanku aku minta ampun

Tuhan ….ku mohon, putarkan rodaku

Agar berjalan lurus di jalanMu

 

80. Lihatlah di sekitar

Kulihat di sekitarku oh itu jalan raya

Kulihat di belakangku oh itu halamanku

Kulihat di depanku oh itu gedung, rumah mewah bertengger

Ku lihat di balik gedung itu ternyata

Rumah temanku yang kumuh

Ku lihat di depanku oh restoran bermenu mantap

Ku lihat lagi di sampingku oh itu

Pejabat sedang makan enak

ku lihat di samping rumahku ternyata

si Adi masih makan nasi aking

 

81. Jeritan Anak Yatim

Di pagi buta yang menyiksa

Anak kecil berbelas kasih

Menderu mengikis

Mau makan nangis, pada siapa mau pinta ?

Hari-hari selalu dihitung

Dengan jutaan iba

Tak tahu lagi apa yang harus dilaku

Pastilah sentuhan kalbu bergores lugu

yang akan jadi temannya

dari kita untuknya sang anak surga dunia.

82. Indonesia Antariksaku

Di Indonesia ku kulihat bintang bertaburan

Menghiaskan di kala malam

Tak lupa bertemankan raja bulan

Penyinar benderang

 

Di Indonesiaku satelit palapa

tak bertemankan siapa-siapa

Di Rusia biasa ku lihat hanggar antariksa

Di Indonesiaku ku tahu,

Antariksa juga kan terjadi di sini

 

83. Diaryku

Diaryku kau lah jujur selalu

Teman sejatiku agar ku tetap lugu

Bersamamu ku lewati

Bersamamu ku miliki

Jutaan impian jutaan tulisan padamu

Diaryku inginku buang bosan-bosan ini

Padamu,

Diaryku inginku beri suka-suka ini padamu,

Ku tahu karena ku yakin engkau

Maha penerima segala isiku

 

84. Potret Sekolahku

Sekolahku sekolah tak bergedung tingkat

Sekolahku sekolah tak bertembok  rekat

Bata-bata yang retak

Langit-langit yang patah

 

Menemani terus sampai kini

Dan tak pernah terganti

Sekolahku sekolah masa kini

Bila hujan, air menetes membanjiri

Lantai-lantai kuyup

Kertas-kertas dan buku buku layup

Ku belajar bertemankan was-was

Awas sekolah hancur

Awas sekolah runtuh

Oh ku berharap pemerintah mengucur

Dana sekolah yang tak pernah menyentuh

85. Jangan Takut Gelap

Petir telah datang

Suara gemuruh bertemankan kilatan

Juga telah hadir menemani malam ini

Listrik mati ah biasa ….

Malam gelap ah biasa …..

Ku punya lentera berbalutkan ayat Tuhan

Yang merela ,

Menemaniku, mengajarkanku, menunjukkanku

Arah yang terang

 

 

 

86. Layang-layangku galak

Berdiriku di tepi pantai

Tarik tali layangku berlawankan angin

oh..ho..kau ternyata bimbang

Menukik ke kiri ke kanan

Sabarku merawatmu

Naik di keindahan angin

Pelan-pelan dan pelan

Kau kan tenang di atas awan

 

87. Pembunuh Jalanan

Di kerumunan banyak orang berkumpul

Di tepi jalan itu berhenti mengepul

Asap asap kendaraan

Sejenak tergantikan

Darah berceceran

Pengendara tak mematuhi

Pengendara kebutan

Pengendara lupa diri

Kadang maut bisa saja menanti

Jutaan orang tiap hari silih berganti

Memasuki medan beralas aspal

Kadang pedoman lupa di kepal

Sesal kemudian nyawa melayang

88. Jangan Pernah

Hai…manusia

Hai…alam semesta

Hai…dunia

Hai ….semuanya

Jangan pernah membabi buta

Jangan pernah suka-suka

Semaunya

Seinginnya

Berlau-laku

Ingat diri , ingat hati, ada Tuhan

 

89. Balada Anak Jogja

Jogjaku jogja berbudaya

Jogjaku jogja punya semua

Warisan melegenda

Budaya anak bangsa

Tutur susila ber edi peni

Mewarisi leluhur berdikari

Sopannya jogjaku

Luhur pada semua

Berpredikat istimewa

Bocah membara membakar lara

Sekuat api yang menyambar

Sukuat air yang menyiram

Tak berkurang sampai hari kelam

 

90. Mataku Buta

Ku kecil juga sudah begini

Dunia terang , dunia gelap

Semua sama saja bagiku

Satu yang beda adalah kalbuku

Aku memang tak lihat

Aku memang tak bisa tunjuk

Apa lagi jalan langsung

Bagaikan diri berpasung

Tapi tidaklah apa,

Lebih baik ku tak tahu dunia yang hitam

Lebih baik ku tahu dunia yang kejam

Bersyukur ku buta, ku meraja

di kegelapan

Yang buatku tak punya dosa di penglihatan

 

91. Memutar Otak

Tuhan kau karuniakan barang terindah

Bawaan tubuh maha penggugah

Oh satu-satunya barang mewah

Yang tetap singgah di tempatku

Kadang kau kuputar

Sesekali juga aku kesal, kau tak jalan

Tapi ku bangga karna kupunya

Kau wahai otakku

Alat paling cemerlang

Bagaikan resep paling cespleng

Yang siap membasmi penyakit yang meraja

 

92. Pengamen Kecil

Batang tubuhku sebenarnya tak kuat

tuk menahan teriknya mentari

di tiga lampu berwarna ini

Ku ikhlaskan saja

tuk petik dawai-dawaiku lagi

Demi nasiku hari ini

Demi perutku hari ini

yang kroncongan

Ku mau minta maafku hari ini

Tuk para raja jalanan

Yang berbelas kasihan

Memberiku uang  jajan

Doaku Tuhan menyertaimu

Maaf ku, aku terpaksa meminta kepadamu

 

93. Sipadan Ligitan

Di perbatasan garismu

Aku sayu mendengar beritamu

Lepas dariku, kau kini telah pergi

Berjuta kenangan, kemasyuran

Telah tergantikan

Kemolekanmu , keindahanmu

Kini bukan milikku lagi

Kau telah pergi untuk selamanya di negri orang

Ku juangkan kau di negri seberang

Tapi tetap saja kau menyeberang tuk berperang

Kini kau tinggal kenangan

Di negriku kau kan tetap menjadi

Warisan cerita yang berkesudahan

 

94. Haloo..Pramuka

Di tempat ini ku berlatih

Di tempat ini kusingsingkan

Mengangkat kaki bergandeng tangan

Bersama temanku yang riang

Patriot berbaju coklat

Praja muda karana

Di tempatmu beranjak

Mengambil sibak , bermodalkan tali simpul

Aku kini kan rangkul jutaan siswa

berprestasi di Indonesia

 

95. Pearl Harbour

Pearl Harbour kau malapetaka

Pearl harbour kau yang pertama

Menahan segala guncangan dunia

Menjadikan sakura datang ke Indonesia

Di tempatmu kami menyibak

Jutaan benderang yang tenggelam

Oleh peluru-peluru tajam

Kau membabi buta

Jet-jet tempur meraja lela

Membombardir  pangkalan maut

Yang masih bertuan,

Kau kini hancur lebur

Sang negri mentari pun

Akhirnya datang menipu kepadaku

 

96. Nippon 3 A

Oh negri matahari

Oh negri sakura

Kau buat ulah apa lagi

Tuk menarik hati kami ?

Apa kami harus percayaimu ?

Kau katakan kau pemimpin asia

Kau katakan kau pelindung asia

Kau katakan kau cahaya asia

Padahal kau peras tenaga kami

Bagaikan kuda tak berjalan

Mati kelaparan , di roda-roda rel

kereta api

 

97. Ku Mengaku Kalah

Akhirnya

Saat itu tiba

Setelah perjalanan sangat panjang

Yang tak pernah kuanggap sia-sia

Aku kini akan berkata

“Iya, aku mengaku kalah”

Tunggu dulu

Aku kalah di laga ini

Tapi aku belum menyerah

Masih banyak pertandingan lain yang menunggu

Dan aku akan ikut beradu

Aku sadar

Jalan ini sudah buntu

Tapi tunggu

Masih banyak jalan lain yang terbuka

Yang akan membawaku ke puncak sana

Aku mengaku kalah

Tapi maaf

Aku takkan menyerah

98. Sang Generasi Arsitek

Kita anak bangunan

selalu menjadi yang terdepan

kenakalan adalah kewajaran

tapi shalat tak pernah kita tinggalkan

Kita generasi arsitek

yang kan selalu menguasai iptek

ilmu kita sudah tak gaptek

juga tidak jutek

solidaritas kita junjungkan

tak membatasi sebuah perbedaan

hidup penuh dengan kesetiaan

pada kawan dan juga pekerjaan

Disiplin selalu kita terapkan

sebagai panutan generasi mendatang

kedamaian kita ciptakan

hapuskan segala perbedaan

Glosarium

Bergeming =berbunyi

Bergolak = berperang

Berkejora = bermunculan

cambuk-cambuk  = pukulan-pukulan

goni = sarung sabut

gusar = cibiran, prasangka

gerilya = perang malam

gemelegar = letusan

Kilatmu =cahayamu

Khalifah = utusan

Ma’nene = lagu tradisi tana toraja

Menorah = menapak

Merajut = membuat

pa’tane = tempat peti batu

rodhi = kerja paksa belanda

sasar = sesat

terpengarah = terkejut

terhuyung huyung = tertatih-tatih

terhampar = tersebar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BERBAGAI MATERI ANALISIS SEBELUM MEMBUAT PUISI

1. PENGERTIAN

Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980:10).

Menurut Vicil C. Coulter, kata poet berasal dari kata bahasa Gerik yang berarti membuat, mencipta. Dalam bahasa Gerik, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir menyerupai dewa-dewa atau orang yang amat suka pada dewa-dewa. Dia adalah orang yang mempunyai penglihatan yang tajam, orang suci, yang sekaligus seorang filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi (Situmorang, 1980:10)).

Ada beberapa pengertian lain.

1. Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

2. Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.

3. Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.

4. William Wordsworth (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, memperoleh asalnya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian.

5. Percy Byssche Shelly (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dari saat-saat yang paling baik dan paling senang dari pikiran-pikiran yang paling senang.

6. Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.

7. Lescelles Abercrombie (Sitomurang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi dari pengalaman imajinatif, yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang mempergunakan setiap rencana yang matang serta bermanfaat.

1. PERBEDAAN PUISI DAN PROSA

HB. Jassin (1953:54) mengatakan bahwa untuk mendefinisikan puisi, puisi itu harus dikaitkan dengan definisi prosa. Prosa merupakan pengucapan dengan pikiran, sedangkan puisi merupakan pengucapan dengan perasaan.

Rahmanto dan Dick Hartoko (1986) mengatakan bahwa puisi merupakan lawan terhadap prosa. Ungkapan bahasa yang terikat (puisi), lawan ungkapan bahasa yang tidak terikat (prosa). Keterikatan oleh paralelisme, metrum, rima, pola bunyi, dsb. Pada sastra modern perbedaan puisi dan prosa sangat kabur.

Luxemburg (1992) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan teks puisi adalah teks-teks monolog yang isinya tidak pertama-tama merupakan sebuah alur. Selain itu teks puisi bercirikan penyajian tipografik tertentu. Tipografik ini merupakan ciri yang paling menonjol dalam puisi. Apabila kita melihat teks yang barisnya tidak selesai secara otomatis kita menganggap bahwa teks tersebut merupakan teks puisi.

Rachmad Djoko Pradopo (1987) mengatakan bahwa dewasa ini orang mengalami kesulitan dalam membedakan puisi dan prosa hanya dari bentuk visualnya sebagai sebuah karya tertulis. Sampai-sampai sekarang ini dikatakan bahwa niat pembacalah yang menjadi ciri sastra utama.

Alterbern (dalam Pradopo, 1987) mengatakan bahwa puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran dalam bahasa berirama. Ada tiga unsur pokok dalam puisi yaitu pemikiran/ide/emosi, bentuk, dan kesan. Jadi puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indra dalam susunan bahasa yang berirama.

Slametmulyana (1956:112) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.

Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).

Perbedaan lain terdapat pada sifat. Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987)

Perbedaan lain yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.

2. UNSUR-UNSUR PEMBENTUK PUISI

Ada beberapa pendapat tentang unsur-unsur pembentuk puisi. Salah satunya adalah pendapat I.A. Richard. Dia membedakan dua hal penting yang membangun sebuah puisi yaitu hakikat puisi (the nature of poetry), dan metode puisi (the method of poetry).

Hakikat puisi terdiri dari empat hal pokok, yaitu

1. Sense (tema, arti)

Sense atau tema adalah pokok persoalan (subyek matter) yang dikemukakan oleh pengarang melalui puisinya. Pokok persoalan dikemukakan oleh pengarang baik secara langsung maupun secara tidak langsung (pembaca harus menebak atau mencari-cari, menafsirkan).

2. Feling (rasa)

Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisinya. Setiap penyair mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan.

3. Tone (nada)

Yang dimaksud tone adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karyanya pada umumnya. Terhadap pembaca, penyair bisa bersikap rendah hati, angkuh, persuatif, sugestif.

4. Intention (tujuan)

Intention adalah tujuan penyair dalam menciptakan puisi tersebut. Walaupun kadang-kadang tujuan tersebut tidak disadari, semua orang pasti mempunyai tujuan dalam karyanya. Tujuan atau amanat ini bergantung pada pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianut penyair

Untuk mencapai maksud tersebut, penyair menggunakan sarana-sarana. Sarana-sarana tersebutlah yang disebut metode puisi. Metode puisi terdiri dari

1. Diction (diksi)

Diksi adalah pilihan atau pemilihan kata yang biasanya diusahakan oleh penyair dengan secermat mungkin. Penyair mencoba menyeleksi kata-kata baik kata yang bermakna denotatif maupun konotatif sehingga kata-kata yanag dipakainya benar-benar mendukung maksud puisinya.

2. Imageri (imaji, daya bayang)

Yang dimaksud imageri adalah kemampuan kata-kata yang dipakai pengarang dalam mengantarkan pembaca untuk terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Maka penyair menggunakan segenap kemampuan imajinasinya, kemampuan melihat dan merasakannya dalam membuat puisi.

Imaji disebut juga citraan, atau gambaran angan. Ada beberapa macam citraan, antara lain

1. citra penglihatan, yaitu citraan yang timbul oleh penglihatan atau berhubungan dengan indra penglihatan

2. Citra pendengaran, yaitu citraan yang timbul oleh pendengaran atau berhubungan dengan indra pendengaran

3. Citra penciuman dan pencecapan, yaitu citraan yang timbul oleh penciuman dan pencecapan

4. Citra intelektual, yaitu citraan yang timbul oleh asosiasi intelektual/pemikiran.

5. Citra gerak, yaitu citraan yang menggambarkan sesuatu yanag sebetulnya tidak bergerak tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak.

6. Citra lingkungan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran selingkungan

7. Citra kesedihan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran kesedihan

1. The concrete word (kata-kata kongkret)

Yang dimaksud the concrete word adalah kata-kata yang jika dilihat secara denotatif sama tetapi secara konotatif mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi pemakaiannya. Slametmulyana menyebutnya sebagai kata berjiwa, yaitu kata-kata yang telah dipergunakan oleh penyair, yang artinya tidak sama dengan kamus.

2. Figurative language (gaya bahasa)

Adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imaji dengan menggunakan gaya bahasa, perbandingan, kiasan, pelambangan dan sebagainya. Jenis-jenis gaya bahasa antara lain

1. perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana, dll.

2. Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding.

3. Perumpamaan epos (epic simile), yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat berturut-turut.

4. Personifikasi, ialah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia di mana benda mati dapat berbuat dan berpikir seperti manusia.

5. Metonimia, yaitu kiasan pengganti nama.

6. Sinekdoke, yaitu bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting untuk benda itu sendiri.

7. Allegori, ialah cerita kiasan atau lukisan kiasan, merupakan metafora yang dilanjutkan.

1. Rhythm dan rima (irama dan sajak)

Irama ialah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembutnya ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama dibedakan menjadi dua,

1. metrum, yaitu irama yang tetap, menurut pola tertentu.

2. Ritme, yaitu irama yang disebabkan perntentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur.

Irama menyebabkan aliran perasaan atau pikiran tidak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji) yang jelas dan hidup. Irama diwujudkan dalam bentuk tekanan-tekanan pada kata. Tekanan tersebut dibedakan menjadi tiga,

1. dinamik, yaitu tyekanan keras lembutnya ucapan pada kata tertentu.

2. Nada, yaitu tekanan tinggi rendahnya suara.

3. Tempo, yaitu tekanan cepat lambatnya pengucapan kata.

Rima adalah persamaam bunyi dalam puisi. Dalam rima dikenal perulangan bunyi yang cerah, ringan, yang mampu menciptakan suasana kegembiraan serta kesenangan. Bunyi semacam ini disebut euphony. Sebaliknya, ada pula bunyi-bunyi yang berat, menekan, yang membawa suasana kesedihan. Bunyi semacam ini disebut cacophony.

Berdasarkan jenisnya, persajakan dibedakan menjadi

1. rima sempurna, yaitu persama bunyi pada suku-suku kata terakhir.

2. Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.

3. Rima mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi)

4. Rima terbuka, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama.

5. Rima tertutup, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).

6. Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.

7. Rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.

8. Rima disonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapaat pada huruf-huruf mati/konsonan.

Berdasarkan letaknya, rima dibedakan

1. rima awal, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi.

2. Rima tengah, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi

3. Rima akhir, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi.

4. Rima tegak yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bait-bait puisi yang dilihat secara vertikal

5. Rima datar yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horisontal

6. Rima sejajar, yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud.

7. Rima berpeluk, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan lalrik ketiga (ab-ba)

8. Rima bersilang, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dengan larik ketiga dan larik kedua dengan larik keempat (ab-ab).

9. Rima rangkai/rima rata, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir semua larik (aaaa)

10. Rima kembar/berpasangan, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir dua larik puisi (aa-bb)

11. Rima patah, yaitu persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c-d)

Pendapat lain dikemukakan oleh Roman Ingarden dari Polandia. Orang ini mengatakan bahwa sebenarnya karya sastra (termasuk puisi) merupakan struktur yang terdiri dari beberapa lapis norma. Lapis norma tersebut adalah

1. Lapis bunyi (sound stratum)

2. Lapis arti (units of meaning)

3. Lapis obyek yang dikemukakan atau “dunia ciptaan”

1. Lapis implisit

2. Lapis metafisika (metaphysical qualities)

IV. PARAFRASE PUISI

Yang dimaksud parafrase adalah mengubah puisi menjadi bentuk sastra lain (prosa). Hal itu berarti bahwa puisi yang tunduk pada aturan-aturan puisi diubah menjadi prosa yang tunduk pada aturan-aturan prosa tanpa mengubah isi puisi tersebut.

Perlu diketahui bahwa parafrase merupakan metode memahami puisi, bukan metode membuat karya sastra. Dengan demikian, memparafrasekan puisi tetap dalam kerangka upaya memahami puisi.

Ada dua metode parafrase puisi, yaitu

1. Parafrase terikat, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami. Seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrase tersebut.

2. Parafrase bebas, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan. Setelah kita membaca puisi tersebut kita menafsirkan secara keseluruhan, kemudian menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.