Kuasai Materi HAM, Stop Budaya Tampar !

Sungguh menggelitik memang akhir-akhir ini muncul adegan yang begitu langka yang selayaknya tidak dilakukan oleh seorang pendidik. Bila kita saksikan baik di media masa ataupun di layar kaca terekspos seorang guru melakukan kekerasan pada murid-muridnya bahkan tidak disangkal bila perilaku itu ternyata tidak hanya terjadi di satu sekolah saja akan tetapi juga terdapat pada sekolah – sekolah yang lain. Dilain sisi mungkin bila kita telusuri budaya kekerasan ini hampir dipastikan terjadi di banyak sekolah di Indonesia dan sudah menjadi kebiasaan yang bertahan lama memang manakala assessment terhadap anak yang memiliki julukan / inisial “bermasalah, bodoh, lamban, tidak taat dan sebagainya” ini tidak bisa dikendalikan. Lantas jika seperti itu adanya siapa sebenarnya yang salah, gurukah ? muridkah ?, atau orang tuakah ? atau siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas munculnya kejadian-kejadian kekerasan ini ?

Sebagai seorang pendidik , kita memang sebenarnya dan seharusnya tahu tentang posisi dan kondisi peserta didik kita. Seperti terlihat dalam penelitian tentang pelaksanaan pembelajaran HAM ( Hak Asaasi Manusia ) di beberapa negara di dunia yang dilakukan oleh beberapa peneliti seperti Kolhberg, dan kawan kawan yang mengemukakan dalam contohnya untuk anak SD. Secara fisik, anak usia SD adalah berada pada tahap perkembangan yang sangat pesat. Berbagai otot dan tulang mengalami penguatan sehingga anak cenderung aktif dalam melakukan kegiatan fisik seperti bergerak, berlari, dan tidak pernah diam di tempat. Kebutuhan untuk melakukan aktivitas fisik anak perlu sekali dipenuhi agar anak berkembang dengan baik.Hal dan kondisi seperti ini seharusnya guru / pendidik juga bisa saling memahami, sehingga bila ada anak yang tidak bisa diam ataupun lamban membaca , dan sebagainya untuk kemudian tidak mengambil jalan tengah kekerasan untuk jalan keluarnya.

Secara moral, memang perkembangan manusia berjalan secara bertahap. Menurut Kolhberg, moralitas manusia tumbuh melalui tiga tingkatan. Pertama, tingkat prakonvensional. Pada tingkatan ini, moral anak memiliki dua tahap: tahap pertama berupa kepatuhan berdasarkan hukuman dan ganjaran; tahap kedua perbuatan moral anak diorientasikan pada kepentingan individu yang bersifat instrumental hedonistik. Kedua, tingkat konvensional. Seiring dengan tambahnya usia anak, moral anak berkembang ke arah konvensional. Pada tingkat ini juga memiliki dua tahap yaitu tahap orientasi konformitas interpersonal dan orientasi pada hukum dan aturan. Ketiga, tingkat pasca konvensional perkembangan moral manusia berada pada tahap orientasi kontrak sosial dan tahap orientasi etis universal. Anak usia SD cenderung berada pada tahap perkembangan moral konvensional. Artinya anak-anak SD akan melakukan suatu perbuatan yang baik sesuai dengan konformitas hubungan interpersonal yang akrab dan intensif. Di samping itu, anak SD akan berbuat baik manakala sesuai dengan hukum dan aturan yang sudah ada dan bukan kesadaran etik universal (Satibi, 2006).

Perkembangan sosial anak SD berada pada tahap kesadaran kolektif yang ditentukan oleh faktor-faktor dalam diri anak dan di luar diri anak. Faktor dari dalam diri anak berupa kondisi internal anak baik fisik, kognitif, sosial emosi, moral, dan spiritual anak. Faktor di luar diri anak adalah lingkungan anak baik lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Berdasarkan perkembangan anak, pendekatan pembelajaran dapat ditentukan. Pendekatan tersebut disesuaikan dengan tahap-tahap pertumbuhan anak. Pembelajaran HAM di SD ataupun sekolah di tingkatan berikutnya bukan saja menyampaikan materi tentang nilai-nilai HAM tetapi pembelajarannya sendiri harus sesuai dan dijiwai dengan HAM. Jika tidak, maka anak akan mengalami suatu keadaan paradoksal atau inkonsistensi yaitu bagaimana ia dapat memahami materi HAM yang diterima ketika pembelajarannya sendiri melanggar HAM? Pendidikan mengandung unsur-unsur HAM dan demokrasi. Mendidik anak akan mengembangkan inteligensi dan karakternya. Hal ini tidak akan terjadi manakala anak hanya belajar secara tekstual dalam buku dan ditentukan oleh guru. Individu hanya akan terdidik dan memiliki kesadaran tentang HAM ketika ia memiliki kesempatan untuk mengalami sendiri HAM dan menyumbangkan sesuatu yang berguna dari pengalamannya tersebut. Misalnya, anak diajak secara langsung ikut membersihkan lingkungan sekolah. Pengalaman ini akan memberikan pengalaman pada anak bahwa ia telah membantu menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Berbagai pendekatan dapat digunakan dalam pembelajaran HAM di SD. Pendekatan tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

1. Pendekatan induktif yaitu suatu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran dengan dimulai dari contoh-contoh, peristiwa-peristiwa, kasus-kasus dan fenomena sejenis untuk ditarik kesimpulan umum.

2. Pendekatan deduktif dimulai dari konsep umum menuju penarikan kesimpulan khusus.

3. Pendekatan kontekstual yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang digunakan guru sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari anak. Pembelajaran kontekstual tersebut memudahkan anak memaknai nilai-nilai HAM yang dipelajarinya.

4. Pendekatan kooperatif (cooperative learning) yaitu pendekatan pembelajaran dengan memberikan kesempatan pada anak untuk bekerja sama dalam belajar. Misalnya, belajar kelompok, belajar dengan model Jigsaw, diskusi kelompok, dan tugas kelompok.

5. Pendekatan inquiry yaitu pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan ksempatan pada anak untuk mencari penyelesaian sendiri terhadap masalah yang dihadapinya. Anak belajar mengamati fenomena, menemukan masalah, dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan penyelesaian masalah sendiri.

6. Pendekatan discovery yaitu pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa menjelajah untuk menemukan sesuatu yang sudah ada.

7. Pendekatan konstruktivistik yaitu suatu pendekatan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk menyusun sendiri konsep-konsep HAM berdasarkan kehidupan sehari-hari anak.

8. Pendekatan behavioristik dengan menciptakan lingkungan yang kondusif anak belajar HAM.

Masih banyak sebenarnya pembelajaran HAM yang bisa dikembangkan dan ditampilkan bersama anak didik dengan pengharapan yaitu tumbuhnya sikap saling memahami di antara pendidik dan peserta didik akan posisinya masing-masing sehingga meminimalisir munculnya kebiasaan perilaku kekerasan pada anak. Kita berharap dengan masih minimnya pembelajaran HAM ini di Indonesia maka sudah menjadi keharusan para pendidik di negeri ini untuk mengembangkan dan membelajarkannnya di kancah sekolah demi mencapai keselarasan bersama. Dan pada akhirnya kita berharap budaya tampar, pukul, push up, lari , cubit, dan lain-lainnya bisa diminimalisir atau bahkan dihilangkan dan didapatkan metode baru yang tidak menyakitkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: