Guru Berintrepreuner

Honda-Accord_EX-L_V6_Sedan_2008_800x600_wallpaper_03
Guru, manusia bersosok multitalenta memang tidak luput apabila sering mendapat sorotan tajam dari berbagai media . Segala atribut apa yang disandangnya seringkali tanpa sedikitpun terlewatkan dari incaran pemberitaan media masa. Tidak heran bila masalah kehidupan ekonomi guru pun juga sering menjadi perbincangan hangat yang selalu mengemuka. Permasalahan pelik yang sering muncul adalah cukupkah guru dengan penghasilannya saat ini untuk sesuap nasi ?, apalagi desas-desis hangatnya program sertifikasi yang notabene memberikan penghasilan hampir dua kali lipat bagi para guru juga bisa benar – benar mengangkat perekonomian para guru. Apa semua itu sudah menjadi jaminan ?
Pada dasarnya guru memanglah sama dengan manusia lainnya, yang juga butuh dana untuk kelangsungan kehidupannya. Namun dalam perjalanan kehidupan, guru terkadang sering lupa dengan penghasilannya yang pas-pasan masih suka memaksakan diri untuk menggunakan penghasilannya demi untuk berkehidupan yang wah alias lux. Semua itu memang tidak salah, karena tidak ada larangan bagi guru untuk berkehidupan yang lebih, akan tetapi fakta menyebutkan ternyata banyak di kehidupan guru menggunakan jaminan pekerjaannya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih dengan sedikit memaksakan diri untuk hidup bersama hutang. Semua itu tidak lain adalah untuk mengikuti kata hati agar memiliki kehidupan yang berlebih.
Andaikan saja guru yang juga manusia itu, memiliki dasar pengelolaan keuangan yang akuntabel, tahu mana pos-pos keuangan yang harus di dahulukan, yang harus disimpan, dan yang harus diberdayakan niscaya permasalahan ekonomi seputar guru tidak akan selalu mendapat sorotan yang negatif. Kita sering melihat banyak orang-orang berlatar pendidikan yang pas-pasan namun sukses dalam roda kehidupan alias keuangannya selalu tercukupi, mereka hanya bermodalkan keberanian dengan sedikit mengesampingkan kehidupan yang wah untuk sementara dan menggunakan segala daya dan waktunya untuk berintrepreuner atau berwiraswasta.
Seperti sering tertuliskan di kolom bisnis yang di asuh oleh Bp.Suyanto, ketua STMIK Amikom di Harian Kedaulatan Rakyat, bahwa seorang manusia akan bisa hidup nyaman apabila memiliki asset yang bergerak atau dalam artian bisa mendatangakan sumber pemasukan sendiri. Dalam hal ini yang sering diperbincangkan adalah Aset Usaha atau Bisnis. Bisnis pada dasarnya memang bukan tercipta untuk semua orang, dan memang hanya segelintir saja yang berhasil menjalaninya. Guru sosok pendidik, yang sering berperan di depan kelas diharapkan juga mampu mengendalikan dan mengontrol keuangannya agar bisa diberdayakan. Tidak salah bila dalam hal ini guru juga mengerti dan tahu tentang kebermanfaatan wiraswasta alias entrepreuner bagi kehidupan.
Andaikan saja para guru memiliki 15 % saja dari total pendapatannya untuk di alihkan dalam berwiraswasta atau usaha lainnya niscaya di negri ini akan tumbuh lapangan-lapangan kerja baru, sekaligus diharapakan mengangkat perekonomian guru secara mandiri di luar pemberian program sertifikasi yang melangit. Banyak sebenarnya model-model atau jenis-jenis bisnis yang cocok dijalankan bagi guru. Seperti usaha pribadi yang hanya bermodalkan otak yaitu kepenulisan, dalam hal ini buku, ataupun artikel, ataupun usaha-usaha yang harus bekerja sama dengan orang lain alias dijalankan oleh karyawan. Pertanyaannya adalah maukah dan bisakah guru mengatur waktu untuk menjalankannya ?
Prinsip jawaban itu hanyalah kembali lagi pada diri pribadi para guru, kita hanya disuruh memilih hidup wah ( lux ) dengan sedikit kebohongan karena sebagian hidup kita yang wah itu berdasarkan hutang, atau kita hidup sederhana tapi memiliki asset yang berjalan yang bisa menjamin kelangsungan hidup kita. Untuk memulai usaha memang tidak segampang membalikkan telapak tangan, perlu banyak pengorbanan di dalamnya, dari mulai Mengatur waktu, menyiapkan modal, memilih jenis usaha, mecari sumber referensi bisnis, dan yang terpenting adalah memulai melaksanakannya.
Potensi guru dalam kewirausahaan adalah karena guru memiliki sebagian waktu senggang selepas kegiatan belajar mengajar di sekolah. Konsekuensi dari kewirausahaan bagi guru adalah syah apabila juga tidak menganggu jam bekerja di sekolah. Dalam hal ini adalah pengetatan pengaturan waktu adalah merupakan kunci keberhasilannya . Permasalahan yang masih sering muncul adalah minimnya pelatihan entrepreuner bagi guru yang masih menjadikan sedikit menutup mata dalam pengetahuan berwirausha. Diklat perkoperasian yang sering hanya menonjolkan teori koperasi saja dan minim pengetahuan wirausaha mandiri serta hanya menonjolkan kemudahan berhutang, adalah menjadi pemicu tingginya hutang tidak produktif bagi para guru. Akhirnya jeratan hutang dan kehidupan yang penuh dengan kebohongan selalu menghiasi para guru, sudah saatnya memang bila para guru mengerti potensi-potensi wirausaha dalam kehidupan. Hutang yang dikelola bukan sepenuhnya untuk konsumtif tapi lebih kepada asset produktif adalah merupakan jawaban bagi para guru agar mendapatkan kehidupan yang harmonis dan sejahtera.
( Artikel ini telah dikirimkan dan terbit di kedaulatan rakyat, jumat 21 / 8 / 2009 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: