Restrukturisasi Pendidikan Agama, Kubur Paham Terorisme

Terorisme , sebuah fakta yang sudah menggejola dan tak dielakkan lagi peredarannya sampai saat ini. Seperti kita ketahui jalur utama paham terorisme yang berkembang ternyata tidak lain juga melalui jalur pendidikan. Bahkan tidak tanggung-tanggung kedok yang digunakan adalah jalan jihad berbasiskan agama. Pilar pendidikan pesantren pun sebagai soko guru moral agama bangsa tak luput menjadi media empuk yang menjembatani berkembangnya gerakan terorisme. Banyak kalangan terdidik dengan berbagai latar belakang dan IQ tinggi menjadi korban, dan secara tidak sadar telah menjadi bagian dari anggota jaringan terorisme. Sungguh disayangkan memang , betapa masa-masa untuk meniti karir masa depan tapi ternyata telah teracuni paham virus terorisme seperti seakan tak sadarkan diri dan dengan ikhlasnya rela berkorban dengan mengorbankan segala-galanya.

Menurut pakar Peneliti terorisme Al Chaidar dalam wawancara di TV yang mengatakan bahwa para bomber itu dipilih dari orang-orang yang gelisah, labil, sedang ada persoalan. Kurang memahami agama dengan benar, kemudian dipengaruhi secara psikologis agar mau mati syahid dan dijamin akan masuk surga. Abu Wildan, teman baik Noordin M Top mengatakan istilah tersebut sesuai dengan keyakinan si bomber. “Karena dia akan meninggal dunia, kalau merasakan akan syahid, mungkin diterima disisi Allah, otomatis masuk ke surga firdaus.”

Dalam pemberitaan seperti disinyalirkan Ahmad Kusaeni, yang me-refer tulisan David Brooks atas hasil investigasi wartawan Pakistan Nasra Hassan yang mewawancarai 250 orang yang merekrut dan melatih para calon pelaku bom bunuh diri di Palestina selama kurun waktu dari tahun 1996 sampai 1999, Calon pengebom itu  dikelompokkan ke dalam sel-sel kecil dan diberikan ceramah agama serta melakukan ritual ibadah yang intensif. Mereka diajak untuk melakukan jihad (meski pemahaman akan jihadnya menyesatkan),  dibakar kebenciannya terhadap musuh (biasanya simbol-simbol Barat dan pendukung Israel) dan diyakinkan akan masuk surga sebagai balasan tindakannya. “Pengebom bunuh diri dicekoki bahwa surga terbentang dibalik detonator pemantik bom dan ajal kematian akan dirasakan tidak lebih dari sekedar cubitan (yang sama sekali tidak menyakitkan),” tulis Brooks.

Mereka diingatkan secara terus menerus bahwa hidup di dunia itu fana, sementara, banyak penderitaan, cobaan dan penghianatan. Yang abadi adalah di surga dimana ada 72 bidadari yang menunggu dengan penuh cinta. Mungkin karena akan bertemu dan menikah dengan bidadari di surga itu, maka si calon pengebom bunuh diri disebut sebagai pengantin. Lalu saat bom meledak dan nyawa si pelaku melayang disebut sebagai “perkawinan”, yakni pertemuan antara jiwa si pelaku dengan sang bidadari.

Fareed Zakaria menyebutkan juga bahwa kini terdapat kaum muda yang kebingungan, dengan satu kaki di dunia lama dan kaki lain di dunia baru, sekarang ini mencari alternatif yang lebih murni dan sederhana. Ledakkan anak-anak muda yang gelisah disebuah negara adalah berita buruk. Ketika disertai dengan perubahan ekonomi dan sosial, biasanya akan menghasilkan politik protes baru. Hasil penelitian Dr Yusef Yadgari menyebutkan bahwa sebagian pengebom bunuh diri dilandasi oleh keputusasaan dan mereka umumnya datang dari kelompok masyarakat yang miskin dan marjinal.

Kini, bagaimana kita menyikapi sebuah upaya pengaruh yang menggunakan dalil-dalil  agama Islam tersebut ? Tanggapan terhadap kelompok teroris ternyata tidak bisa hanya diserahkan kepada polisi saja, Bagaimana sebenarnya peran pendidikan agama dan moral di sekolah dan pesantren di saentro negeri ini bergeming ? Maksimalkah system pendidikan agama sekarang ini, dengan kenyataan banyak para aktivis intelektual dan pemuda pelajar kita menjadi dayang pelaku terorisme.Ini bukanlah masalah kecil, bila kita telusur atas permasalahan terorisme yang menggunakan dalil agama tersebut maka sudah sepantasnya system pendidikan agama yang berkonsekuensi menimbulkan keyakinan tinggi pun harus mampu menjadi alat untuk mengubur paham terorisme tersebut.

Sudah saatnya system kurikulum pendidikan agama yang sesuai agar menganjurkan untuk  memasukkan standar isi maupun ( indicator )  pendidikan anti terorisme di samping juga anti terhadap permasalahan mengemuka lainnya seperti korupsi, pembunuhan, penipuan, bunuh diri, dan lain sebagainya. Para pelaksana alias guru juga dirapkan selalu tanggap atas isu  global yang menggejola. Apabila system standar isi itu memang mampu diterapkan oleh para pendidik kita, dengan berbagai model konsekuensi pembelajarannya di kelas niscaya diharapkan akan tumbuh keyakinan dan pandangan yang benar akan paham paham yang bermasalah.Dan pada akhirnya penulis hanya berpendapat bahwa sudah menjadi tugas para pemerhati pembuat kurikulum dan pelaksana pendidikan agar bisa melakukan perombakan kurikulum dan merekstrukturisasi ulang, khususnya pelajaran agama sebagai bentuk kurikulum yang mengikuti perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: