MOMENTUM HARI JADI SANG GURU

Terpujilah wahai engkau Ibu-Bapak Guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. S’bagai prasasti t’rima kasihku ‘tuk pengabdianmu.Engkau bagai pelita dalam kegelapan.Engkau patriot pahlawan bangsa.Tanpa tanda jasa…
Tanggal 25 November ”Hari Guru” kembali diperingati. Tidaklah berlebihan bila momentum hari guru ini dijadikan ajang merefleksi potret – potret kita sebagai seorang guru. Bila kita cermati syair lagu Hymne Guru di atas adalah gambaran betapa mulianya profesi guru. Lagu ini diciptakan oleh seorang guru kesenian bernama Bapak Sartono berasal dari Madiun yang tinggal di sebuah rumah tidak layak huni. Bapak Sartono memenangkan Lomba Cipta Lagu Guru yang diselenggarakan oleh Depdikbud (sekarang berubah menjadi Depdiknas) pada tahun 1980. Saat memenangkan lomba itu Bapak Sartono statusnya guru tidak tetap (GTT), di akhir tugasnyapun Bapak Sartono tetap (GTT) tanpa tunjangan pensiun di hari tua. Ironis memang guru yang memiliki prestasi tapi belum mendapatkan penghargaan selayaknya dari birokrasi.
Di tengah realitas penindasan yang dialami sebagian guru itulah, serta mandulnya organisasi guru, tidak seharusnya guru surut dan melupakan tugas utamanya. Keikhlasan dalam mengaktualisasikan tugas haruslah tetap dikedepankan oleh para guru. Memang hal ini tidaklah mudah, akan tetapi, mengingat betapa pentingnya peran seorang guru dalam mengemban pendidikan putra-putri ibu pertiwi dan sekaligus sebagai front terdepan penggerak kemajuan bangsa dan negara, maka sudah sepantasnya jika para guru tetap menanamkan semangat pantang menyerah untuk menghadapi berbagai aral yang melintang dalam menjalankan tugas.
Momentum bagi komunitas pribadi intelek ini memang sudah sepantasnya menjadikan manusia yang benar-benar bisa ‘digugu’ dan ‘ditiru’. Bahasa gampangannya diteladani. Tak hanya di sekolah bagi murid-muridnya, tetapi juga keberadaannya di tengah masyarakat. Kompetensi yang dituntut dari mereka, tak hanya dalam materi dan perilaku profesionalnya di sekolah, tetapi juga Kompetensi sosialnya.
Jaman dahulu, menyebut kata ‘guru’ akan menggiring pada persepsi sosok yang berilmu pengetahuan luas,arif,bijaksana,dan layak diteladani.Bagaimana dengan sekarang? Harus diakui, ‘daya pikatnya’ menurun dalam derajat tertentu. Pasalnya, seiring guliran waktu, banyak variabel yang mendorong persepsi publik bahwa barisan pahlawan pendidikan itu tergerogoti namanya. Ada yang mencabuli murid, tak disiplin, dihukum karena kawin liar, digerebek dengan wanita di kamar hotel, bermain judi, hingga menjadi aktor video mesum. Bahkan, jajaran dinas sendiri kerap memunculkan isu-isu yang tak sedap.
Berbagai rangkaian kejadian itu menyebabkan guru kehilangan pesonanya di mata publik. Mereka menyemai subur penilaian negatif sehingga mengakibatkan guru menjadi bahan perbincangan hangat di pasar-pasar.?Namun demikian, masih banyak sebenarnya guru yang mencoba berada pada jalur normatif, menjunjung tinggi kode etik, dan menjaga kompentensi intelektual? dan kompetensi profesionalnya. Mereka yang masih setia pada jalur ini, selayaknya diberi penghargaan agar memotivasi rekan-rekannya yang lain untuk meniru dan meningkatkan kinerja. Jika hanya memantik motivasi dengan kenaikan gaji,? Kurang tepat, yang seharusnya adalah berbasis pada penilaian kinerja.
Momentum peringatan Hari Guru tahun ini-khususnya di Yogyakarta sudah selayaknya direnungi bersama oleh korps PGRI. Apalagi, rangkaian kasus amoral beruntun melibatkan guru. Situasi global saat ini menyebabkan tantangan bagi guru kian berat, sehingga membutuhkan keseriusan untuk mendalaminya. Selain itu, peringatan kali ini haruslah mengevalausi sejauh mana tampilan performa dalam meretas kemajuan mendidik anak-anak bangsa. Ini mendesak dan urgen, karena sumbangan dunia pendidikan sesungguhnya amatlah sangat berarti.
Disamping itu guru yang sering disandarkan pada tagline pahlawan tanpa tanda jasa, kadang juga memunculkan pertanyaan “Jangankan tanda jasa, momentum sejarah kepahlawanannya pun sering kali absurd dalam ingatan kita. Adakah sesungguhnya sebuah momentum, sehingga guru memiliki sebuah hari yang bersejarah ? adakah sebuah romantisme masa lalu yang diidentifikasi sebagai goresan kepahlawan sang guru ?
Meskipun momentum itu berbeda-beda bentuk dan waktunya. Momentum itu hadir, bahkan sering muncul. Sehingga Momentum itu tak lagi perlu dipertanyakan. Dia selalu ada dan hadir kembali mengingatkan kita. Mengingatkan akan sebuah sumbangsih, sebuah kemuliaan, sebuah motivasi dan harapan, sebuah pengorbanan, sebuah ketulusan dan kegigihan yang mungkin baru tersadar, di saat-saat hari guru diperingati.Inilah yang kemudian disebut sebagai pengalaman bathin, karena momentum itu ada dalam wilayah yang sangat pribadi, sehingga setiap orang mengakui eksistensi para guru, meskipun belum semuanya menghargai guru dengan selayaknya.
Sekali lagi, karena momentum kepahlawanan sang guru ada dalam setiap diri kita masing-masing, maka kitalah yang tahu persis, bagaimana menghargai mereka. Apakah penghargaan kita akan setulus perhatian mereka, apakah akan segigih pengorbanan mereka, apakah akan sebesar jiwa mereka, yang telah berpeluh-peluh membebaskan kita dan anak bangsa lainnya dari penjajahan kebodohan ? Pada akhirnya kita semualah yang harus mengaktualisasikan momentum itu dan semoga di hari guru yang ke 64 ini guru indonesia semakin jaya.

tulisan ini telah terbit di Kedaulatan Rakyat Jogjakarta 25 / 11 / 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: