Syairku Padamu , Agus dan Yulianta

Ketika detik waktu itu, ku tercengang
Merambatkan telingaku pada kabarmu
Dulu kita pernah berkelana, bersenda dan gurau
Bergumal dalam keseharian kita

Kita adalah teman, dan semua juga tahu
Teman lainnya pun juga tahu…..
Sang waktu memang telah memisahkan
Menandakan di batas waktu sekolah menengah itu telah usai
Dan kita semua bak merpati terbang, hanya kabar burung yang kita tahu
kita semua mencari ke jati diri terdalam lubuk kita

Pelan dan pelan waktupun berputar
Beberapa diantara kita hanya kadang
Sesekali saja mengabarkan kesenanagan kita.
Hatiku pun begitu tergabuk, ketika kau….
Agus,…teman sang raja rumput hijau
Sang komedian, kau kabarkan dirimu
Tidur tenang dalam keranda hijaumu…..akupun spontan
Spontan bagaikan tarikan gas bermotor
Yang tak mau berhenti mendengar
Kebenaran kabar burungmu itu,

Ku masih belum percaya…..
Ah…siapa gerangan mengabarkan seenaknya saja
Kau yang dulu lebih kuat dari aku, lebih sehat dari aku
Yang benar bila kau berada begitu.

Aku pun ternyata tak bisa lagi terbohongi ketika
ku angkat kedua tanganku di hadapan dipan terbaikmu
ternyata engkau tidak bercanda, Gus…..
Baiklah selamat jalan kepadamu,
Semoga segala terbaikmu memang akan menemanimu

Hari seakan tak berselang
Berselisih, dan selisih…limit itu seakan hanya secuilan saja
Tak panjang…..sehari ya…sehari, oh sang raja jalanan, hormat pada senjatamu
Benarkah juga kau kabarkan hal yang sama padaku
Yulianta, dulu ku sering membonceng di kudamu
Ketika aku tak ada besi kuning itu
Kudamu , kau dan aku pulang bersama di balik gudang ilmu itu,
Begitupun bila kuda besimu itu tak ada,
Kau pernah singgah sebentar di gubukku
Dan ku antar sampai tempatmu pula.

Tapi kini kabarmu seakan seenaknya saja
Mengikuti si raja rumput hijau itu, apakah benar
Kau memang begitu,…..
Deru suara pengeras, masjidku berdengung
Menyebut namamu mengudara….

Tak perlu panjang dan lebar,
Ketika kaki melangkah , kau lihatkan banyak tulisan karangan bunga
Dari teman terbaikmu, aku pun hanya bisa mengangkat kedua tanganku di depan dipanmu
Berbasut bendera merah putih, dan kau memang tak bercanda
Kau memang benar……kini tinggal aku lah yang harus berpikir
scenario Tuhan juga tidak akan lepas padaku sepertimu
Ku berharap, terbaikmu juga akan menular
Pada terbaikku, …..ku tak bisa berpesan apa-apa lagi
Semoga pesanmu sampai dalam hatiku, selamat jalan kawan…
Puisi ini maaf terpahatkan baru sekarang.

( Agus sang ilmuwan pecinta rumput hijau baru menyelesaikan S2, Yulianta Sang Pak Polisi, yang begitu bertalenta )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: