Gencarkan Virus Pengabdian


WADUH..KENAPA FOTONYA PAKAI PENGABDI SETAN…..HE…HE…..

Dilema memang ketika segala sesuatu diukur dengan materi. Tak luput pula bila status pegawai negri yang notabene adalah pelayan masyarakat kini juga mulai berubah. Indikasi ini juga bisa dilihat pada segala atribut pemerintahan, elemen / lembaga, instansi / dinas bahkan sampai aparaturnya adalah sungguh sangat berbeda dengan apa yang ada pada zaman dulu. Ketika semua  diukur  dengan apa yang namanya uang maka semua mata akan menjadi berwarna hijau dan hati akan menjadi tertutup dan vitamin pengabdian pelan ataupun cepat pasti akan menjadi sirna dan hilang entah kemana.

Bicara masalah pengabdian adalah merupakan hal yang paling sulit untuk dihayati dan dilakukan. Bertolak pada sebuah kata yang dalam dan penuh dengan dorongan hati yang tulus pada suatu hal guna mempersembahkan yang terbaik pada apa yang seharusnya dilakukan. Vitamin pengabdian khususnya dalam birokrasi pendidikan yang terjadi pada guru, adalah tidak lain juga akan menjadi sama apabila pemantapan kata pengabdian itu memang sudah tidak mau lagi melekat pada hati kita masing-masing. Dulu menjadi pegawai negri khususnya guru sangatlah “nrimo” sekali. Mereka hanya dibayarkan upah yang sungguh di bawah standar minimal. Di sisi lain guru-guru itu walaupun diibayar dalam kondisi minus akan tetapi tetap mampu mengabdi dengan penuh semangat dan tetap bertujuan untuk memajukan semua peserta didiknya.

Bila kita ingat contoh teladan Bapak Sartono yang berasal dari Madiun dan hanya tinggal di sebuah rumah tidak layak huni sungguh sangat bisa mengetuk hati kita semua. Bapak Sartono ternyata adalah pemenang Lomba Cipta Lagu Guru yang diselenggarakan oleh Depdikbud (sekarang berubah menjadi Depdiknas) pada tahun 1980. Saat memenangkan lomba itu Bapak Sartono statusnya guru tidak tetap (GTT), di akhir tugasnyapun Bapak Sartono tetap (GTT) tanpa tunjangan pensiun di hari tua. Ironis memang guru yang memiliki prestasi tapi belum mendapatkan penghargaan selayaknya dari birokrasi, dan beliau tetap bekerja dengan penuh pengabdian.

Zaman dahulu, menyebut kata ‘guru’ akan menggiring pada persepsi sosok yang berilmu pengetahuan luas,arif,bijaksana,dan layak diteladani.Bagaimana dengan sekarang? Harus diakui, ‘daya pikatnya’ menurun dalam derajat tertentu. Pasalnya, seiring guliran waktu, banyak variabel yang mendorong persepsi publik bahwa barisan pahlawan pendidikan itu tergerogoti namanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program sertifikasi yang sudah hampir berjalan selama tiga tahun ini ternyata belum tentu bisa menaikkan derajat kualitas pendidkan. Sertifikasi yang menitik beratkan factor pada peningkatan Jumlah pendapatan / tunjangan guru itu ternyata di ujung tanduknya juga menjadi pemicu factor tingginya konsumerisme bagi kalangan guru. Akhirnya program tersebut banyak tertitik pada focus pengejaran materi dan minim sekali focus dalam peningkatan mutu, walaupun hakikatnya adalah dengan penambahan peningkatan tunjangan maka sudah selayaknya peningkatan hasil pendidikan juga dapat tercapai.

Ingat hukum ekonomi berkata, semakin tinggi pendapatan seseorang maka semakin tinggi pula tingkat pengeluarannya. Hukum tersebut berlaku pada seseorang dengan indikasi minim sekali unsure pengabdian yang ada pada dirinya. Jika seseorang memiliki unsure pengabdian yang tinggi maka dengan kondisi apapun, baik dalam kondisi materi / pendapatan bertambah maka sudah sepantasnya dia tetap berada pada koridor apa yang ada dalam hatinya. Fakta yang terlihat pula dalam penilitian adalah guliran program sertifikasi selain pemicu naiknya konsumerisme guru ternyata juga menjadi pemicu tingginya hutang para guru. Ini benar atau tidak tetapi hasil penarikan angket yang dilakukan salah satu lembaga adalah seperti itu. Pengabdian memang penting bagi semua orang apalagi para guru yang notabene adalah pahlawan penerus yang sudah mendapat julukan pahlawan tanpa tanda jasa.

Melihat contoh pengalaman para pahlawan, yang benar-benar mengabdi bahkan mempertaruhkan nyawa adalah menjadi mengiris hati apabila kita sebenarnya bisa menghayatinya. Pengabdian akan tumbuh bersamaan dengan munculnya rasa tanggung jawab yang besar akan beban / sumpah / janji yang sudah di ucapkan. Pengabdian akan menjadi buah dari kemolekan hati seseorang yang bila disaksikan akan menjadi sebuah penampilan yang akan mengibakan orang lain pada kita. Pada akhhirnya virus pengabdian memanglah harus tetap dikembangkan dan dihayati dalam setiap pribadi seseorang, baik guru, aparatur instansi, ataupun perseorangan lainnya. Bahkan dalam sebuah pepatah berkata : Seseorang yang tahu diri adalah juga memiliki pengabdian terkecil yaitu pada dirinya sendiri. Jika pengabdian ini masih ada dalam segala unsure elemen / lembaga maka diharapkan akan menjadikan perjalanan tujuan yang tidak hanya menomorsatukan uang alias materi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: