Berita Pendidikan ahewa.wordpress.com

namanya juga nulis sendiri..upload sendiri..he..makanya..inilah..suka-suka..aj..mau.dikasih ap..oce2.. semoa..ga..bermanfaat…
Para pakar menyatakan, “Anak-anak pada rentang usia 4 sampai dengan 13 tahun, karena belum banyak mengecap asam garam dunia, hatinya masih murni, merupakan masa dengan daya ingat yang paling kuat selama hidupnya. Jika pada masa keemasan ingatan ini memperoleh pendidikan yang baik, akan sangat bermanfaat bagi sepanjang hidupnya.

8 Rahasia Membuat Anak menjadi Pandai/Jenius
Penulis rubik khusus pendidikan, Korey Capozza, menyarankan sembilan cara untuk membina dan meningkatkan IQ (intelligence quotient ) anak.

1. Belajar Musik
Ini merupakan cara yang bagus untuk meningkatkan pembelajaran otak kanan dengan santai dan mudah. Menurut hasil penelitian Universitas Toronto, pelajaran musik dapat meningkatkan intelligence quotient dan prestasi sekolah seorang anak. Bahkan semakin lama dipelajari, hasilnya semakin jelas.

2. Tingkatkan kesehatan
Tim peneliti dari University of Illinois telah membuktikan hubungan antara kesehatan dan pelajaran anak di sekolah. Penelitian dari Oppenheimer Funds malah menunjukkan bahwa olah raga berkelompok bukan saja meningkatkan rasa percaya diri, membangun spirit kebersamaan, bahkan dapat memupuk kecakapan memimpin. Delapan puluh satu persen dari para direktris perusahaan pada saat masih kecil, semuanya pernah bergabung dalam suatu kegiatan organisasi.

3. Permainan
Memang ada banyak games yang bisa membuat pemainnya menjadi brutal, nyentrik ataupun malas berpikir. Namun juga ada sejumlah games yang dapat meningkatkan spirit bersosial, kreativitas dan inspirasi, bahkan ada yang dapat melatih anak untuk berpikir dengan bijaksana serta melatih kemampuan membuat rencana. Penelitian di University of Rochester juga menemukan bahwa anak kecil yang bermain games lebih berkemampuan dalam menemukan petunjuk rasa visual dalam belajar.

4. Menolak junk food
Kurangi mengonsumsi makanan berkadar gula tinggi, berpantang berbagai makanan berlemak tinggi dan junk food yang lain. Sebaliknya, banyaklah mengonsumsi makanan sehat bergizi tinggi, ini akan meningkatkan perkembangan intelegensi dan motorik anak, terutama bagi bayi yang belum genap dua tahun, hal ini sangat penting. Misalnya, seorang anak harus mengonsumsi sejumlah zat besi untuk membantu pertumbuhan otak. Kalau kurang jumlahnya, penghantaran impuls syaraf akan melemah.

5. Memupuk rasa ingin tahu
Para pakar mengungkap, ketika orang tua mendorong anak untuk mempunyai pemikiran sendiri, sesungguhnya adalah sedang meng-arahkan mereka pada pentingnya menuntut pengetahuan. Menaruh perhatian yang besar terhadap minat anak, mengenalkan dan mengajarkan ketrampilan baru kepada mereka pada setiap ada kesempatan mendidik di luar rumah, semua ini merupakan cara yang baik sekali guna memupuk dambaan anak untuk menuntut pengetahuan.

6. Membaca
Sejalan dengan kemajuan teknologi, banyak orang yang mengabaikan pentingnya membaca. Membaca merupakan cara meningkatkan intelligence quotient seseorang yang paling langsung dan efektif. Membacakan cerita untuk anak, menjadi anggota perpustakaan dan menambah koleksi buku bacaan semuanya merupakan cara yang baik untuk memupuk minat membaca seorang anak.

7. Makan pagi
Pepatah yang mengatakan burung yang bangun pagi akan mendapatkan makanan bukanlah tanpa dasar. Jauh sejak 1970, penelitian ilmiah menemukan seorang anak yang sarapan pada pagi hari memiliki ingatan yang lebih baik, lebih mampu berkonsentrasi dan juga mampu belajar lebih cepat. Dari pada sama sekali tidak makan pagi, makanlah sepotong kue atau minum segelas susu, hal ini akan sangat membantu dalam belajar.

8. Bermain permainan pengasah otak
Bermain catur, teka-teki silang atau permainan lain dapat merangsang intelegensi. Games Sudoku malah dapat memupuk cara berpikir yang bijaksana dan memupuk kemampuan memecahkan masalah.

Selain hal-hal di atas, pada saat seorang anak masih sangat muda harus sering diajak bercengkrama, mintalah anak mengingat perbendaharaan kata yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari ataupun mintalah anak menghafal, semua ini merupakan jurus piawai untuk membantu anak memupuk intelligence quotient.

Para pakar menyatakan, “Matikan tv, mintalah anak keluar rumah, mendekatkan diri dengan alam dan mengolah tubuh, merupakan salah satu metode terbaik untuk melatih anak menjadi pandai cekatan dan bertubuh sehat.”

8 Kesalahan Guru dalam Menggunakan Facebook

Siapa orang saat ini yang tidak kenal alias “Gandrung” dengan dunia Facebook.  Facebook memang sudah lama sebenarnya menghiasi model gaya sosial orang-orang dalam berjejaring di dunia ini.Tak luput pula bila segala segmen kehidupan ini telah terobsesi oleh fenomena facebook yang satu ini, mulai dari pergaulan sehari-hari, pola interaksi, bahkan dalam dunia pendidikan yang sangat kental dengan kultur budaya dan moral yang kuatpun juga ternyata ikut tersentil dengan fenomena facebook. Facebook dalam perkembangannya memang memiliki 2 sisi yang sangat dominan, yaitu sisi positif dan sisi negative. Saat ini khususnya para pendidik mungkin kurang memahami akan beberapa kelebihan dan kekuarangan dari pemanfaatan situs jejaring social ini.

Fakta yang terjadi adalah banyak dianatara kita yang terhanyut dan kurang memahami betul bagaimana menagarahkan dan memfungsikan panel-panel facebook ini. Coba sebentar kita tengok bagaimana sejarahnya facebook ini dibuat oleh sang maha karya Mark Zuckerberg , mahasiswa Havard University.  Menurut pembuatnya, Mark Zuckerberg, Facebook bermula hanyalah sebagai situs jejaring social biasa saja antar mahasiswa Havard University, akan tetapi tak menyanga facebook sampai detik ini masih memegang dominasi terampuh untuk pemecah rekor situs social karena sayapnya yang sudah melebar. Tentu dari segi kondisi dilema ini seharusnya kita benar-benar tahu apa dan bagian apa seharusnya yang kita lakukan dalam berselancar dengan facebook, Ambil saja contoh nyata dalam dunia pendidikan, baik antara guru ataupun  siswa yang juga sudah terkontaminasi dengan facebook. Dilihat dari kacamata kejadian sehari-hari ternyata banyak diantara guru sebenarnya yang masih salah dalam menggunakan facebook, hal itu diantaranya adalah :

1. Menulis status yang tidak berarti ( terjadi pada banyak

guru-guru muda )

Sepertinya para kalangan ini masih mencirikan bagaikan dunia ABG, hal ini bisa dilihat dari statusnya. Tak henti-hentinya para guru muda ini menggonta ganti statusnya yang tentu ini hanya akan menyita waktu saja dan akhirnya tidak bisa focus dalam pekerjaan apalagi dalam mengajar. Satu rumus yang harus kita  ingat, Facebook adalah dunia online dengan penuh ketagihan, sekali anda melayani di sana pasti anda akan sulit untuk keluar lagi dari sana, tapi coba lihat bedanya mereka para pengusaha dalam memanfaatkan media teknologi tersebut sungguh mereka begitu terarah dan bermanfaat, bagaimana memanfaatkan untuk mengejar segmen market, jejaring bisnis, dan lain-lainnya, seandainya saja para guru muda ini bisa memanfaatkan secara sinergi kekuatan facebook ini dari segi-segi penyelancar educat / pendidikannya sebenarnya adalah merupakan peluang untuk membuat media pendidikan bagi siswa bersama dunia facebook ini, karena facebook sejatinya sudah dilengkapi dengan panel-panel educasinya, seperti panel video, note ( catatan ) bahkan semua itu bisa terarah hanya dengan beberapa tag saja maka dalam hitungan seperberapa detik sudah sampai ditangan user lain, jadi tak ada salahnya bila para guru ini tak hanya sekedar cuap-cuap saja di dunia online, selain menurunkan citra seorang pendidik, kita juga menjadi hanya sekedar seseorang yang tidak ada bedanya antara guru dan bukan guru bahkan tak lebih jeleknya sama seperti para siswa yang menulis status, yang sebenarnya tak penting dan tak perlu ditulis.

2.Memiliki / menggunakan profil yang begitu terbuka

Berkaiatan tentang masalah privasi ini , banyak di antara kita yang sering lupa bahwa Facebook adalah merupakan suatu hal yang sangat pribadi, jadi kita harus juga mengusahakan keamanan privasi paswordnya, kita harus tahu dan jangan sekali-kiali memberikan pada orang lain tentang keyword facebook kita ini, apalagi kepada murid kita. Jangan gunakan nama sederhana atau kata-kata yang ada dalam kamus, bahkan meski dikombinasikan dengan angka. Alih-alih, gunakan campuran huruf besar, huruf kecil, angka dan simbol. Sebuah kata sandi paling tidak harus memiliki delapan karakter.              

3.Tak Memanfaatkan Kontrol Privasi

Seperti yang sudah dikemukakan di atas, hampir semua akses informasi dalam akun Facebook kita dapat kita batasi, hanya untuk teman, teman dari teman, atau anda sendiri. Di antara semua informasi, disarankan untuk membatasi akses kepada foto, tanggal lahir, pandangan keagamaan dan informasi keluarga. Kita dapat memilih orang-orang tertentu atau akses grup untuk item-item tertentu seperti foto, atau bahkan mengeblok orang tertentu dari akses tersebut. Lebih baik jangan meninggalkan info kontak seperti nomor ponsel dan alamat. Tentu anda tak ingin ada orang yang mengakses atau memanfaatkan informasi tersebut.

4. Membolehkan Anak-Anak / Siswa Menggunakan Facebook

Tanpa Diawasi
Facebook membatasi usia keanggotaan mulai dari 13 tahun ke atas. Namun, kadang anak-anak dibawah usia itu ada yang menggunakan. Jika kita memiliki bocah berusia muda atau remaja awal di Facebook, cara paling baik untuk mengawasi adalah menjadi teman mereka. Gunakan alamat email kita sebagai kontak akun mereka, sehingga kita dapat menerima notification (pemberitahuan) dan memonitor aktivitas mereka. “Apa yang mereka pikir hal biasa dapat benar-benar sangat serius,” ujar agen khusus pengawas pada Pusat Keluhan Kriminal Internet, Charles Pavelites. Sebagai contoh, seorang anak yang menulis “Ibu akan pulang segera, Aku perlu menyiapkan makanan,” setiap hari secara rutin akan memberi tahu publik jadwal rutin orang tua datang dan pergi serta kapan si anak sendirian di rumah. Bukan tak mungkin itu dimanfaatkan oleh orang berniat jahat. sumber: http://www.republika.co.id/berita/trendtek/aplikasi/10/05/14/115643-hindari-lakukan-7-hal-di-facebook-mulai-sekarang

5. Kurang Beretika Dalam Berkomentar

Kemampuan untuk mengomentari suatu artikel blog / situs sebenarnya merupakan satu aspek yang membuat situs atau diskusi  menjadi sangat menarik dan terkesan lebih hidup. kemampuan berkomentar juga memerlukan suatu keahlian selain kita dituntut untuk mengasah kemampuan kita dalam menulis. Namun dalam media komentar ini kita juga harus memegang beberapa etika diantaranya tidak menyinggung penulis lain, ataupun membuat hal-hal yang tidak-tidak, tahu kan ada beberapa kasus masuk di meja hijau dan tangkapan Bapak Polisi hanya gara-gara status dan komentar di situs / web yang tidak beretika, jadi dalam hal ini kedewasaan memang memegang peranan penting dalam pergaulan online.

6.Belum memfungsikan sebagai media transver ilmu

pengetahuan

Para kalangan guru, khususnya guru muda sebenarnya sudah tahu akan hal ini, namun memang karena user ( siswa yang terbagi-bagi dalam banyak status social sehingga tidak semuanya punya  facebook ) maka hal ini belum bisa berlaku secara menyeluruh. Namun alih-alih yang terjadi pada sebagaian user yang sudah memiliki adalah jarang sekali / minim untuk digunakan sebagai media transver ilmu pengetahuan dengan menggunakan facebook. Banyak sebenarnya panel-panel yang bisa digunakan dalam facebook seperti tag , note, video, message, dan banyak lagi yang dapat kita atur sendiri bersama siswa kita. 

7. Membiarkan Search Engine Menemukan Kita

Kita harus tahu tentang kekutan search engine ini pada diri kita yaitu untuk membantu mencegah orang-orang asing mengakses halaman profil kita . Bila kita sudah memiliki banyak file di data base website, sebenarnya sangat mudah sekali orang-orang mengakses data kita, bila ingin mencoba, coba saja masukkan nama lengkap kita ( orang-orang terkenal ) di google atau yahoo sebagai mesin pencari dan lihat apa yang terjadi. Maka dari itu untuk pencegahannya kita bisa pergi ke bagian Search di kontrol privasi milik Facebook dan pilihlah Only Friends (Hanya Teman) untuk hasil pencarian Facebook. Pastikan pula kotak untuk public search result (hasil pencarian publik) tidak dicentang.

8. Belum memahami fungsi facebook secara utuh.

Kebaikan suatu hasil karya tentu memiliki sisi positif, dan kejelekan suatu hasil karya itu adalah suatu sisi negative, akan tetapi sisi negative selalu muncul karena kesalahan pengguna dan bukan dari product hasil karya tersebut. Jadi dalam hal ini facebook memang harus kita pahami secara benar dan menyeluruh khususnya tentang cara penggunaannya dan juga etika-etika apa saja yang harus dipegang dalam dunia facebook ini, Dengan kita tahu penggunaannya diharapkan facebook akan tidak berada di jalan yang salah karena yang menggunakan ( usernya ) adalah orang-orang yang sudah tahu arah .

( Tulisan sedang dikirimkan ke majalah Dikpora Jogja )

Masuk satu artikel di majalah chandra..DINAS JOGJA

Tak menyangka artikelnya ada yang masuk lagi ternyata…terima kasih semuanya..saja..yang telah membantu….memberi masukan..memberi support..dan banyak hal….lainnya yang sebenarnya memang benar-benar membantu bagi saya….terima kasih semuanya….

Gencarkan Virus Pengabdian


WADUH..KENAPA FOTONYA PAKAI PENGABDI SETAN…..HE…HE…..

Dilema memang ketika segala sesuatu diukur dengan materi. Tak luput pula bila status pegawai negri yang notabene adalah pelayan masyarakat kini juga mulai berubah. Indikasi ini juga bisa dilihat pada segala atribut pemerintahan, elemen / lembaga, instansi / dinas bahkan sampai aparaturnya adalah sungguh sangat berbeda dengan apa yang ada pada zaman dulu. Ketika semua  diukur  dengan apa yang namanya uang maka semua mata akan menjadi berwarna hijau dan hati akan menjadi tertutup dan vitamin pengabdian pelan ataupun cepat pasti akan menjadi sirna dan hilang entah kemana.

Bicara masalah pengabdian adalah merupakan hal yang paling sulit untuk dihayati dan dilakukan. Bertolak pada sebuah kata yang dalam dan penuh dengan dorongan hati yang tulus pada suatu hal guna mempersembahkan yang terbaik pada apa yang seharusnya dilakukan. Vitamin pengabdian khususnya dalam birokrasi pendidikan yang terjadi pada guru, adalah tidak lain juga akan menjadi sama apabila pemantapan kata pengabdian itu memang sudah tidak mau lagi melekat pada hati kita masing-masing. Dulu menjadi pegawai negri khususnya guru sangatlah “nrimo” sekali. Mereka hanya dibayarkan upah yang sungguh di bawah standar minimal. Di sisi lain guru-guru itu walaupun diibayar dalam kondisi minus akan tetapi tetap mampu mengabdi dengan penuh semangat dan tetap bertujuan untuk memajukan semua peserta didiknya.

Bila kita ingat contoh teladan Bapak Sartono yang berasal dari Madiun dan hanya tinggal di sebuah rumah tidak layak huni sungguh sangat bisa mengetuk hati kita semua. Bapak Sartono ternyata adalah pemenang Lomba Cipta Lagu Guru yang diselenggarakan oleh Depdikbud (sekarang berubah menjadi Depdiknas) pada tahun 1980. Saat memenangkan lomba itu Bapak Sartono statusnya guru tidak tetap (GTT), di akhir tugasnyapun Bapak Sartono tetap (GTT) tanpa tunjangan pensiun di hari tua. Ironis memang guru yang memiliki prestasi tapi belum mendapatkan penghargaan selayaknya dari birokrasi, dan beliau tetap bekerja dengan penuh pengabdian.

Zaman dahulu, menyebut kata ‘guru’ akan menggiring pada persepsi sosok yang berilmu pengetahuan luas,arif,bijaksana,dan layak diteladani.Bagaimana dengan sekarang? Harus diakui, ‘daya pikatnya’ menurun dalam derajat tertentu. Pasalnya, seiring guliran waktu, banyak variabel yang mendorong persepsi publik bahwa barisan pahlawan pendidikan itu tergerogoti namanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program sertifikasi yang sudah hampir berjalan selama tiga tahun ini ternyata belum tentu bisa menaikkan derajat kualitas pendidkan. Sertifikasi yang menitik beratkan factor pada peningkatan Jumlah pendapatan / tunjangan guru itu ternyata di ujung tanduknya juga menjadi pemicu factor tingginya konsumerisme bagi kalangan guru. Akhirnya program tersebut banyak tertitik pada focus pengejaran materi dan minim sekali focus dalam peningkatan mutu, walaupun hakikatnya adalah dengan penambahan peningkatan tunjangan maka sudah selayaknya peningkatan hasil pendidikan juga dapat tercapai.

Ingat hukum ekonomi berkata, semakin tinggi pendapatan seseorang maka semakin tinggi pula tingkat pengeluarannya. Hukum tersebut berlaku pada seseorang dengan indikasi minim sekali unsure pengabdian yang ada pada dirinya. Jika seseorang memiliki unsure pengabdian yang tinggi maka dengan kondisi apapun, baik dalam kondisi materi / pendapatan bertambah maka sudah sepantasnya dia tetap berada pada koridor apa yang ada dalam hatinya. Fakta yang terlihat pula dalam penilitian adalah guliran program sertifikasi selain pemicu naiknya konsumerisme guru ternyata juga menjadi pemicu tingginya hutang para guru. Ini benar atau tidak tetapi hasil penarikan angket yang dilakukan salah satu lembaga adalah seperti itu. Pengabdian memang penting bagi semua orang apalagi para guru yang notabene adalah pahlawan penerus yang sudah mendapat julukan pahlawan tanpa tanda jasa.

Melihat contoh pengalaman para pahlawan, yang benar-benar mengabdi bahkan mempertaruhkan nyawa adalah menjadi mengiris hati apabila kita sebenarnya bisa menghayatinya. Pengabdian akan tumbuh bersamaan dengan munculnya rasa tanggung jawab yang besar akan beban / sumpah / janji yang sudah di ucapkan. Pengabdian akan menjadi buah dari kemolekan hati seseorang yang bila disaksikan akan menjadi sebuah penampilan yang akan mengibakan orang lain pada kita. Pada akhhirnya virus pengabdian memanglah harus tetap dikembangkan dan dihayati dalam setiap pribadi seseorang, baik guru, aparatur instansi, ataupun perseorangan lainnya. Bahkan dalam sebuah pepatah berkata : Seseorang yang tahu diri adalah juga memiliki pengabdian terkecil yaitu pada dirinya sendiri. Jika pengabdian ini masih ada dalam segala unsure elemen / lembaga maka diharapkan akan menjadikan perjalanan tujuan yang tidak hanya menomorsatukan uang alias materi.

MOMENTUM HARI JADI SANG GURU

Terpujilah wahai engkau Ibu-Bapak Guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. S’bagai prasasti t’rima kasihku ‘tuk pengabdianmu.Engkau bagai pelita dalam kegelapan.Engkau patriot pahlawan bangsa.Tanpa tanda jasa…
Tanggal 25 November ”Hari Guru” kembali diperingati. Tidaklah berlebihan bila momentum hari guru ini dijadikan ajang merefleksi potret – potret kita sebagai seorang guru. Bila kita cermati syair lagu Hymne Guru di atas adalah gambaran betapa mulianya profesi guru. Lagu ini diciptakan oleh seorang guru kesenian bernama Bapak Sartono berasal dari Madiun yang tinggal di sebuah rumah tidak layak huni. Bapak Sartono memenangkan Lomba Cipta Lagu Guru yang diselenggarakan oleh Depdikbud (sekarang berubah menjadi Depdiknas) pada tahun 1980. Saat memenangkan lomba itu Bapak Sartono statusnya guru tidak tetap (GTT), di akhir tugasnyapun Bapak Sartono tetap (GTT) tanpa tunjangan pensiun di hari tua. Ironis memang guru yang memiliki prestasi tapi belum mendapatkan penghargaan selayaknya dari birokrasi.
Di tengah realitas penindasan yang dialami sebagian guru itulah, serta mandulnya organisasi guru, tidak seharusnya guru surut dan melupakan tugas utamanya. Keikhlasan dalam mengaktualisasikan tugas haruslah tetap dikedepankan oleh para guru. Memang hal ini tidaklah mudah, akan tetapi, mengingat betapa pentingnya peran seorang guru dalam mengemban pendidikan putra-putri ibu pertiwi dan sekaligus sebagai front terdepan penggerak kemajuan bangsa dan negara, maka sudah sepantasnya jika para guru tetap menanamkan semangat pantang menyerah untuk menghadapi berbagai aral yang melintang dalam menjalankan tugas.
Momentum bagi komunitas pribadi intelek ini memang sudah sepantasnya menjadikan manusia yang benar-benar bisa ‘digugu’ dan ‘ditiru’. Bahasa gampangannya diteladani. Tak hanya di sekolah bagi murid-muridnya, tetapi juga keberadaannya di tengah masyarakat. Kompetensi yang dituntut dari mereka, tak hanya dalam materi dan perilaku profesionalnya di sekolah, tetapi juga Kompetensi sosialnya.
Jaman dahulu, menyebut kata ‘guru’ akan menggiring pada persepsi sosok yang berilmu pengetahuan luas,arif,bijaksana,dan layak diteladani.Bagaimana dengan sekarang? Harus diakui, ‘daya pikatnya’ menurun dalam derajat tertentu. Pasalnya, seiring guliran waktu, banyak variabel yang mendorong persepsi publik bahwa barisan pahlawan pendidikan itu tergerogoti namanya. Ada yang mencabuli murid, tak disiplin, dihukum karena kawin liar, digerebek dengan wanita di kamar hotel, bermain judi, hingga menjadi aktor video mesum. Bahkan, jajaran dinas sendiri kerap memunculkan isu-isu yang tak sedap.
Berbagai rangkaian kejadian itu menyebabkan guru kehilangan pesonanya di mata publik. Mereka menyemai subur penilaian negatif sehingga mengakibatkan guru menjadi bahan perbincangan hangat di pasar-pasar.?Namun demikian, masih banyak sebenarnya guru yang mencoba berada pada jalur normatif, menjunjung tinggi kode etik, dan menjaga kompentensi intelektual? dan kompetensi profesionalnya. Mereka yang masih setia pada jalur ini, selayaknya diberi penghargaan agar memotivasi rekan-rekannya yang lain untuk meniru dan meningkatkan kinerja. Jika hanya memantik motivasi dengan kenaikan gaji,? Kurang tepat, yang seharusnya adalah berbasis pada penilaian kinerja.
Momentum peringatan Hari Guru tahun ini-khususnya di Yogyakarta sudah selayaknya direnungi bersama oleh korps PGRI. Apalagi, rangkaian kasus amoral beruntun melibatkan guru. Situasi global saat ini menyebabkan tantangan bagi guru kian berat, sehingga membutuhkan keseriusan untuk mendalaminya. Selain itu, peringatan kali ini haruslah mengevalausi sejauh mana tampilan performa dalam meretas kemajuan mendidik anak-anak bangsa. Ini mendesak dan urgen, karena sumbangan dunia pendidikan sesungguhnya amatlah sangat berarti.
Disamping itu guru yang sering disandarkan pada tagline pahlawan tanpa tanda jasa, kadang juga memunculkan pertanyaan “Jangankan tanda jasa, momentum sejarah kepahlawanannya pun sering kali absurd dalam ingatan kita. Adakah sesungguhnya sebuah momentum, sehingga guru memiliki sebuah hari yang bersejarah ? adakah sebuah romantisme masa lalu yang diidentifikasi sebagai goresan kepahlawan sang guru ?
Meskipun momentum itu berbeda-beda bentuk dan waktunya. Momentum itu hadir, bahkan sering muncul. Sehingga Momentum itu tak lagi perlu dipertanyakan. Dia selalu ada dan hadir kembali mengingatkan kita. Mengingatkan akan sebuah sumbangsih, sebuah kemuliaan, sebuah motivasi dan harapan, sebuah pengorbanan, sebuah ketulusan dan kegigihan yang mungkin baru tersadar, di saat-saat hari guru diperingati.Inilah yang kemudian disebut sebagai pengalaman bathin, karena momentum itu ada dalam wilayah yang sangat pribadi, sehingga setiap orang mengakui eksistensi para guru, meskipun belum semuanya menghargai guru dengan selayaknya.
Sekali lagi, karena momentum kepahlawanan sang guru ada dalam setiap diri kita masing-masing, maka kitalah yang tahu persis, bagaimana menghargai mereka. Apakah penghargaan kita akan setulus perhatian mereka, apakah akan segigih pengorbanan mereka, apakah akan sebesar jiwa mereka, yang telah berpeluh-peluh membebaskan kita dan anak bangsa lainnya dari penjajahan kebodohan ? Pada akhirnya kita semualah yang harus mengaktualisasikan momentum itu dan semoga di hari guru yang ke 64 ini guru indonesia semakin jaya.

tulisan ini telah terbit di Kedaulatan Rakyat Jogjakarta 25 / 11 / 2009

Sumpah Pemuda di Era Modern

Melihat kembali sejarah perjalanan bangsa dalam meniti kemerdekaan adalah tidak pantas bila kita mengesampingkan peranan sumpah pemuda di dalam perkembangan bangsa Indonesia. Sumpah pemuda di zaman dulu memanglah merupakan suatu pernyataan tulus ikhlas dan penuh kebaktian di mana segala atribut kepentingan di leburkan dalam suatu kalimat-kalimat positif yang benar-benar membangkitkan dan juga mengharukan. Bagaimana tidak suasana di saat benar-benar dalam tekanan dan penuh pengorbanan dari penjajah bangsa asing para pemuda-pemuda bangsa dari berbagai penjuru pulau-pulau di Indonesia masih menyempatkan diri untuk berkumpul , berkumpul bukan sekedar bercanda tapi adalah membuat tonggak sejarah baru yaitu untuk bersatu dalam sebuah ikatan sumpah.

Mereka , para anggota organisasi pemuda memanglah bukan manusia sembarangan, mereka berkemauan keras agar sumpah benar-benar dilaksanakan dan membumi di tanah Indonesai ini. Kita tak bisa bayangkan, apa jadinya bila memang Sumpah pemuda kala itu tidak menggema, dan batal dilaksanakan, niscaya anak cucu kita sekarang ini sudah dipastikan akan mengalami suatu naskah cerita sejarah yang berbeda dengan  saat ini. Seperti para sejarawan dan pendidik ketahui bahwa sumpah pemuda adalah sebuah sumpah dimana semua pemuda di Indonesia ini mengakui untuk bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Tiga dasar dalam sebuah sumpah inilah yang menjadikan kekuatan maha dahsyat yang ternyata membuat Indonesia bergerilya untuk mencari jati dirinya dalam sebuah kemerdekaan pada tahun 1945.

Bila kita telusuri perjalanan sumpah pemuda yang diawali dengan Rapat pertama yaitu pada hari Sabtu, 27 Oktober 1928 yang berhasil menghasilkan suatu mufakat tentang  arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Pada intinya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Selantjutnya dalam Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, juga menghasilkan suatu mufakat penting yaitu tentang masalah pendidikan. Disana dihasilkan pendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada sesi berikutnya,  juga dijelaskan tentang pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Karena pada intinya gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini dapat mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, guna meraih hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Melihat perjalanan kekuatan sumpah pemuda yang sungguh mengaguman , memperlihatkan bahwa dengan segala ketulusan dan keikhlasan kita semua ternyata mampu bergandengan tangan bersatu padu hingga meraih kemerdekaan ini. Sunnguh ironis memang momentum-momentum bersejarah ini bila dilupakan begitu saja, kita juga sering menganggap remeh tentang nilai dan makna filosofis sumpah pemuda ini di masa kini. Bahkan banyak diantara pemuda-pemuda kita sekarang, juga lupa akan arti dan makna sumpah pemuda.Mereka mennganggap nilai sejarah zaman dulu adalah hanya mengandung filosofis di zaman dulu saja, dan tidak menempatkan bagaimana seharusnya berkembang dan digunakan pada zaman sekarang ini. Sesi sesi terpenting keberhasilan sumpah pemuda adalah bagaimana menciptakan makna filosofi sumpah pemuda ini dalam berbagai bidang  kehidupan sekarang ini, baik  pendidikan, sosial, pertahanan , budaya maupun yang lainnya.

Sudah selayaknya bila kita bersatu dan memperkuat ikatan satu sama lain agar Indonesia tetap kokoh dan bertahan di tengah krisis global yang mengancam ekonomi negeri ini. Sumpah Pemuda membawa berita baik bahwa sampai saat ini kita masih disatukan oleh tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Persatuan dan Kesatuan merupakan langkah dasar kemajuan suatu bangsa. Dan akhirnya Selamat Hari Sumpah Pemuda, di masa kini semoga kita tetap jaya sepeti harapan para pahlawan pahlawan pemuda Indonesia.

Facebook, Alternatif Media Pembelajaran

Facebook , siapa orang yang pada saat ini tidak mengenalnya ? Situs jejaring sosial yang mulai kontroversial dan menggejola sejak dekade tahun 2004 itu kini telah menjadi barang yang bukan awam lagi bagi kebanyakan orang. Bagaimana tidak situs yang awalnya hanya sebagai tugas akhir kuliah seorang mahasiswa bernama Mark Zuckerberg, dan dulu hanya digunakan sebagai media saling mengenal antar mahasiswa Harvard , AS saja, kini telah menjadi sosial networking yang begitu memikat banyak orang.
Sejarah Facebook memang sangat mencengangkan, dalam waktu dua minggu setelah diluncurkan, separuh dari semua mahasiswa Harvard telah mendaftar dan memiliki account di Facebook bahkan 4 bulan semenjak diluncurkan, Facebook telah memiliki 30 kampus dalam jaringannya. Sang pemilik facebook juga bagaikan kejatuhan durian runtuh , pasalnya banyak para investor berminat untuk membelinya, lihat saja terakhir kali penawaran yang tidak kalah menggiurkan yaitu, oleh Yahoo senilai 1 Milyar US Dollar, walaupun pada akhirnya penawaran itu tetap ditolaknya. Sejak terakhir penawaran itulah, setelah Facebook yakin dengan kekuatan jaringannya maka tidak tanggung-tanggung Facebook di buka untuk siapa saja yang memiliki account email di dunia ini, mulai dari sekolah tingkat atas, tempat kerja, atau wilayah geografis.
Tidak ada situs jejaring sosial lain yang mampu menandingi daya tarik Facebook terhadap user. Pada tahun 2007, terdapat penambahan 200 ribu account baru perharinya Lebih dari 25 juta user aktif menggunakan Facebook setiap harinya. Rata-rata user menghabiskan waktu sekitar 19 menit perhari untuk melakukan berbagai aktifitas di Facebook. Lantas apa sebenarnya kegunaan jejaring social ini bagi kebanyakan orang sehingga sangat senang sekali menggandrunginya. Adakah sebenarnya nilai – nilai baik positif ataupun negatif, khususnya dari jejaring Facebook ini, baik bagi personal, bisnis, dan bahkan untuk pendidikan.
Dalam banyak perbincangan yang dilakukan di discussion group dan berbagai milis di dunia maya, tersibak bahwa Facebook juga menimbulkan sisi negatif, hal itu dapat terlihat dari maraknya beberapa pekerja dan para siswa yang sebagian menggunakan waktu efisiennya untuk mensetup ulang statusnya di facebook ataupun bercuap-cuap pada jam kerja, hal ini memanglah di rasa mengganggu bagi para instansi perusahaan , sekolah ataupun lainnya. Namun dari kejadian ini setelah dicari dengan data yang akurat terlihat bahwa sebagian dari mereka ternyata adalah sebagian orang yang tidak mengetahui cara penggunaan teknologi secara tepat guna, jadi sisi negative Facebook muncul karena perilaku manusia yang tidak sebagaimana mestinya.
Diluar sisi negatif itu, facebook sebenarnya tetap memiliki banyak manfaat, jauh lebih banyak ketimbang mudharat-nya. Sebagai bukti akan nilai positif Facebook ini, khususnya bagi dunia pendidikan, dapat dilihat yaitu akan tersedianya beberapa sarana dan fitur yang ada dalam Facebook. Lantas bagaimana sebenarnya cara memanfaatkan facebook sebagai sarana pembelajaran / pendidikan ini dilakukan ?
Kegitan mensurving Facebook dalam kegiatan pendidikan adalah dengan cara menjalankan beberapa aplikasi fitur-fitur berikut ini ,seperti : Facebook Share, Ini merupakan fitur dasar di facebook. Fitur ini pastinya juga bisa digunakan sebagai sarana untuk membantu pembelajaran. Siapapun bisa men-share apapun (tulisan singkat, link, gambar, video dsb) ke semua teman-temannya.Facebook Quiz, saat ini sudah banyak quiz-quiz yang beredar di facebook. Rata-rata hanya quiz yang dibuat untuk sekedar iseng. Fitur ini sejatinya bisa dipakai untuk melakukan quiz online. Sang guru bisa membuat quiz-nya dengan mudah kemudian menyuruh seluruh muridnya untuk mengerjakan quiz tersebut.Facebook Note, Dengan sarana ini sang guru bisa memancing murid-muridnya saling berdiskusi mengenai topik tertentu. Sang guru cukup membuat note disana kemudian men-tag seluruh muridnya untuk memancing diskusi. Facebook Apps, Dengan fitur ini hampir segalanya bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah game edutainment pada platform facebook Apps ini. Salah satu contoh Facebook Apps game edutainment yang cukup terkenal dan banyak dimainkan adalah Geo Challenge. Sebuah aplikasi game untuk menguji pengetahuan geografis dari pemain-pemainnya.
Paling tidak itu empat contoh pemanfaatan facebook sebagai media bantu pembelajaran. Tentunya pemanfaatan facebook ini pasti akan digandrungi oleh para murid karena disana mereka bisa belajar sambil bersenang-senang. Kelebihan bagi para guru adalah dalam tingkat jejaringnya, misalnya seorang guru meng add / submit teman guru lain atau menjadi fans dari Perhimpunan Guru Sulawesi padahal Sang Guru berada di Jogjakarta, akhirnya mereka dapat dengan mudah bertukar informasi yang sedang hangat. Akhirnya memang kembali lagi pada pribadi masing-masing atas kecanggihan-kecanggihan teknologi yang akhir-akhir ini sering bermunculan. Setidaknya kita tahu dan bisa menggunakannya untuk segi positif, apa lagi para guru adalah mungkin merupakan suatu jawaban untuk memajukan pendidikan di negeri ini.