Hot News.

Hot News.
1. Untuk Teman Teman Guru / Orang Tua
HARI Kamis, 18 Desember 2008 diadakan seminar gratis “pendidikan untuk guru dan orang tua” persembahan Microsoft edu Indonesia di auditorium MM UGM. Fasilitas “ Gratis” makan, snack, sertifikat, Door Prize, bagi 50 pendaftar pertama di sediakan gift menarik earlybert. Mohon konfirmasi pendaftaran secepatnya di 081802738835 sebelum hari H.

Iklan

Makes Dreams Come True

Judul : Menjadi Kaya Sukses dan Sehat Dengan KekuatanPikiran

Penerbit : Indonesia Cerdas

Penulis : Bambang Prakuso

Cetakan : I ( + april ), 2008

Tebal : 243 halaman

Ingatkah kita pada sepenggal lirik yang begitu menginspirasi pada judul lagu “I Have A Dream” milik group boy band legendaries west life ? Tak bisa dipungkiri bila isi lirik tersebut memang mengingatkan kita tentang bagaimana seharusnya seorang manusia mempunyai mimpi dan cara membangun mimpi tersebut. Mimpi bagi seorang manusia bukanlah hanya sebatas bunga tidur di atas kasur belaka yang sering membawa kita ke dalam angan-angan panjang yang selalu tak ada gunanya. Mimpi adalah merupakan hal yang pasti dan bukanlah merupakan ilusi, walaupun kebanyakan manusia beranggapan bahwa mimpi atau cita-cita yang terlalu tinggi hanyalah akan membawa ke dalam khayalan yang tak ada hasilnya, maka tidak heran bila banyak orang yang enggan untuk bermimpi.

Di lain pihak orang kadang sering merasa bahwa dirinya sudah ditakdirkan dan divonis oleh Tuhan mengenai keadaan dirinya memang hanya pada batas itu saja.Padahal apabila manusia mau memikirkan bagaimana caranya membangunkan mimpi-mimpi yang telah dicetuskannya tersebut untuk diwujudkan ke dalam hidupnya maka seribu jalan sebenarnya telah menanti di depan mata.

Buku karya Bambang Prakuso adalah merupakan jawaban apabila kita sering merasa bahwa mimpi-mimpi kita baru sampai dalam isapan jempol belaka. Buku ini mengupas secara mendalam dan gamblang serta mudah dicerna mengenai bagaimana kita menciptakan mimpi, memproses mimpi, kemudian membangunkan mimpi itu dan mewujudkannya dalam kehidupan kita. Menurut kisah nyata yang dialami penulis bahwa apapun yang kita inginkan atau impikan adalah sesuatu hal yang mungkin dan bukan merupakan suatu angan-angan di siang bolong. Mimpi bisa diwujudkan karena manusia dibekali dengan kekuatan otak ( brain power ) yang merupakan keajaiban luar biasa sebagai karunia tertinggi dari Tuhan. Dengan otak tersebut manusia menyimpan sekumpulan kekuatan yang dinamakan kekuatan pikiran bawah sadar.

Pikiran bawah sadar adalah pikiran di luar sadar yang bekerja menjalankan kemauan / keinginan kita tanpa ada kata “menyerah”. Dalam pikiran bawah sadar tersimpan enam fungsi kekuatan diantaranya sebagai pusat bank memori, pengatur fungsi-fungsi tak sadar, sebagai pusat emosi, sebagai tempat imajinasi, pengendali kebiasaan, dan sebagai sebuah dynamo yang menggerakkan manusia, sedangkan cara kerjanya adalah mirip sebuah memori komputer, hanya saja bedanya informasi dan data dalam memori komputer dapat dipanggil kembali sedang memori dalam pikiran sulit untuk dipanggil kembali, akan tetapi meskipun begitu apabila kita dapat mengaplikasikan teori yang ada di dalam buku ini kemudian memadukannya dengan apa yang menjadi impian kita ( dream of powers ) maka kemungkinan besar “Dewi Fortuna” tetap akan selalu berpihak pada kita.

70 % materi yang ada dalam buku ini memang beberapa menyelami dan menjelajahi tentang bukti-bukti kekuatan pikiran /otak dalam bekerja dan berkarya dalam mewujudkan impian. Dengan disertai bukti-bukti kisah seperti bagaimana Donald Trump , sang kaya raya no.1 dunia membangun mimpinya dari nol ( dari keadaan miskin ), Kolonel Sanders dengan waralaba kentuckynya yang sudah membumi,Thomas alfa Edison dengan temuan lampu pijarnya, Bill Gates dengan microsoftnya dan masih banyak lagi kisah lainnnya yang disuguhkan dalam buku ini dengan begitu jelas. Kisah – kisah yang begitu menginspirasi tersebut hampir 100% menyimpulkan bahwa mereka adalah orang – orang biasa tetapi mau dan tahu bagaimana cara memperkerjakan serta mengajak otaknya untuk memproses dan mewujudkan mimpinya. Berdasarkan penelitian para ahli ditemukan kenyataan bahwa manusia baru menggunakan 10% kekuatan pikirannya. 90 % lainnya tertidur dan belum diberdayakan.Menurut para ahli brain power lainnya, Einstein konon baru menggunakan sekitar 3 %kemampuan otaknya. Sungguh mengagumkan apabila fakta itu benar berarti kita adalah makhluk power ranger.

Dr. Bruced Goldbrerg telah membuktikan lewat penelitiannya bahwa pikiran bawah sadar menyimpan memori kita di masa lalu dengan baik.Tapi manusia tidak bisa dengan mudah menggali kenangan masa lalunya itu sekalipun rekaman masa lalu itu masih ada.Sering kali ia muncul ketika kita mengalami peristiwa yang sama, dari uraian itu dapat disimpulkan bahwa otak bawah sadar memegang kunci kenapa tingkah laku kita seperti sekarang.Ia juga merupakan kunci pencapaian masa depan.Oleh karena itulah penancapan impian dalam pikiran bawah sadar membawa peranan penting dalam sejarah perjalanan hidup manusia untuk mencapai sukses. Seperti dikutip “Orang yang paling miskin adalah orang yang tidak punya impian”Zig Zighar ( hal 110 ). Sebuah universitas di Amerika juga pernah meneliti tentang hubungan antara impian dan kesuksesan. Para ilmuwan mengumpulkan para mahasiswa dan menanyakan apakah mereka punya impian. Dari sebagaian kecil tadi ditanya lagi, siapa yang menuliskan impiannya di atas kertas. Ternyata hanya sedikit orang. Dan hal itu dilakukan berkali-kali oleh para ahli ,hingga pada decade lebih dari 15 tahun kemudian universitas tersebut kembali melakukan wawancara pada alumnus yang pernah mereka teliti dahulu. Fakta yang ditemukan adalah ternyata mereka yang sukses adalah yang memiliki impian bahkan mahasiswa yang dulu menuliskan impiannya seluruhnya juga sukses. Kehidupan mereka jauh lebih baik dari rekan-rekannya yang tidak memiliki impian ketika penelitian pertama dilakukan. Dari eksperimen itulah kita bisa mengetahui bahwa impian adalah merupakan rel dimana kereta kita akan kita bawa / jalankan.

Sungguh ironis memang di zaman seperti sekarang ini apabila kita tidak memimiliki impian dalam hidup kita, itu menandakan seakan kita hidup tanpa adanya tujuan, bermimpi adalah boleh dan tidak dilarang serta tidak haram. Buku ini selain banyak mengupas tuntas tentang problematika impian juga terdapat pemahaman serta penyelaman tentang suatu kajian ilmu yang begitu mendalam yang disebut sebagai Neuro Linguistik Program ( NLP ), yaitu sebuah ilmu yang mempelajari otak manusia dan bagaimana caranya memberdayakannya. NLP juga sering disebut people skill technology atau psychology of excellence.NLP dicetuskan sekitar tahun 1970-an oleh Ricahrd Bandler ( pakar matematika dan programming computer ) dan John Grinder ( professional linguistic ) .NLP tersebut kemudian dirumuskan sebagai the study of subjective experience.

Kupasan materi yang terperinci dan begitu detail memang bisa membawa kita sebagai pembaca seakan-akan mau tidak mau segera merubah mindsett dari arah negatif menjadi positif, dari miskin menjadi kaya, dari sakit menjadi sembuh, dari bodoh menjadi pintar, dan dari segala hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Memang, seperti tertuliskan : Paul Hanna ( Motivator ternama Australia, penulis buku-buku best seller ) mengatakan, “Seekor anak elang tak akan pernah dapat terbang ketika ia membayangkan dirinya sebagai anak ayam. Menganggap diri anda menjadi apa yang anda inginkan adalah merupakan persiapan mental yang sangat membantu ketika anda mencapai posisi itu.”(hal.118). Ini berarti apapun yang kita pikirkan dan kita yakini memang membawa kekuatan tersendiri untuk mencapai kearah apa yang kita inginkan.

Buku dengan tebal 243 halaman ini memang dikemas dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti disertai dengan ilustrasi gambar, dan juga ilustrasi draft mulai dari memprogram ulang ( format ) Pikiran, panduan menyusun impian tertulis, cara menentukan Impian, dan bagaimana membangun kekuatan untuk mengatasi kelemahan dan ancaman serta mengambil peluang untuk meraih mimpi-mimpi yang akan diwujudkan di masa depan. Kisah kisah di dalam buku yang dijabarkan dengan bukti-bukti nyata memang bisa menjadi inspirasi dan daya tarik tersendiri untuk dibaca bagi siapa saja yang mau dan berani untuk mempunyai mimpi.

Tulisan ini berhasil terbit di Kedaulatan Rakyat Jogja

Kontroversi Elektronik Book ( E-Book ) Versi BSE Depdiknas

Kemajuan E-Learning di Indonesia pada dekade kali ini memang boleh dikata mulai menampakkan daun hijau dan juga buahnya yang amat segar dan ranum, dalam artian mulai merangkak naik walau belum bisa untuk dibilang memuaskan, akan tetapi paling tidak menghasilkan hasil yang nyata untuk dunia pendidikan kita. Salah indikator diantaranya adalah dengan diluncurkannya sebuah layanan baru dari Depdiknas yang memungkinkan siapa saja untuk mendownload buku sekolah elektronik secara gratis di website http://bse.depdiknas.go.id. Buku gratis tersebut meliputi buku-buku pelajaran mulai dari SD,SMP,SMA,dan SMK.Seperti dikutip sumber dari Depdiknas bahwa keberadaan buku sekolah elektronik gratis tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan Departemen Pendidikan Nasional untuk menyediakan buku yang memenuhi standar nasional pendidikan yang bermutu dan murah.Bagi saya pribadi, hal ini memang bisa merupakan salah satu bentuk mulai sadarnya pemerintah akan pentingnya teknologi bagi pendidikan dan salah satu upaya nyata yang diberikan untuk menjadikan pendidikan di Indonesia semakin maju.

Dalam prakteknya memang boleh dikata pemerintah sangat responsif akan tanggung jawabnya baik dalam hal teknis ataupun non teknis lainnya. Hal ini dapat dilihat dari sikap pemerintah mulai dari membebaskan penggandaan buku elektronik tersebut baik untuk dijadikan dalam bentuk buku (hard copy) atau dalam bentuk CD/DVD atau yang lainnya dengan syarat asalkan tidak melebihi standarisasi harga eceran tertinggi yang diberikan pemerintah. Seperti dikatakan dalam acara peresmian ( launching E-book ) tersebut bahwa untuk memperbanyak dan menjualnya adalah dengan patokan harga eceran tertinggi (HET) yaitu berkisar antara Rp 4.000-Rp 20.000 per buku. Memang kebijakan ini diharapkan dapat untuk mencegah manipulasi monopoli pasar dari para penerbit yang sangat gencar melakukan promosi dan kerjasama dengan sekolah sekolah untuk mengadakan penjualan buku secara masal kepada para siswa, bahkan tidak tanggung-tanggung kedok pembelian buku pun kerap dijadikan satu dengan biaya masuk sekolah atau pembayaran lainnya sehingga bisa membengkakkan anggaran para orang tua / wali murid untuk biaya pendidkan anaknya.

Memang dalam prakteknya untuk saat saat ini, karena masih dalam tahap launching,banyak diantara para pengguna menemukan berjuta masalah saat pelaksanaan program dari buku elektronik tersebut. Hal itu dapat di ketahui dari berbagai fakta yang ada di lapangan, diantaranya :

Pertama, akses teknologi dan kemampuan guru yang ternyata masih minim. Sebagian besar masyarakat, sekolah dan pihak Pemda mengalami kesulitan saat mendownload file naskah buku elektronik tersebut. Hal ini disebabkan mungkin beberapa wilayah di negeri ini belum terjangkau koneksi internet yang memadai. Pemerintah dalam hal ini memang seharusnya tidak menutup mata, bahwa pengguna internet di tanah air pada kenyataannya adalah baru 5 persen dari jumlah penduduk. Pun, sebarannya juga lebih banyak di kota dan kalangan atas (dalam artian sudah mampu melengkapi diri sendiri dengan perangkatnya atau mereka yang ikut menggunakan fasilitas kantor). Dalam hal ini perlu diketahui juga bahwa masyarakat desa adalah setali tiga uang, artinya mereka juga belum akrab dengan internet. Untuk keperluan makan saja susah, apalagi ngutak-atik komputer! Fakta lainnya adalah ketersambungan aliran listrik di Indonesia yang baru 40 persen. Dari sekitar 72.000 desa di negeri ini, baru sepertiganya yang terjangkau internet. Dengan fakta ini, jangan harap sekolah-sekolah yang ada di pelosok pedesaan bisa mengakses buku elektronik itu. Terlebih, ada fakta yang cukup memprihatinkan yakni dari sekitar 2,7 juta guru di Indonesia, yang melek teknologi alias Hi-Tech ternyata hanya sekitar 10-15 persen. Pun, diperkirakan hanya 10 persen dari siswa di seluruh Indonesia yang bisa mengakses lewat internet! Inilah bukti bahwa kebijakan buku elektronik memang belum maksimal khususnya berkait dengan peta-peta wilayah Indonesia yang masih timpang dalam hal teknologi.

Kedua, bagi daerah atau sekolah-sekolah yang telah berinternet, ternyata juga bukan soal mudah untuk mengunduh buku elektronik untuk belajar. Pasalnya, pola, behavior ( kebiasaan ) dan budaya belajar siswa harus berubah cukup drastis, dari konvensional ke teknologi informasi. Bayangkan, para siswa harus antre menggunakan internet, setelah itu mencetaknya ke kertas. Pertanyaannya, apakah setiap sekolah mampu menyediakan kertas dan tinta printer untuk kepentingan ini? Jikapun guru telah mengunduh dan siswa cukup mencopynya, ternyata biaya copy buku itu dimungkinkan akan lebih mahal dibandingkan jika membeli bentuk cetak.

Ketiga, masih ada beberapa sekolah yang ternyata tidak mengakui bahwa masyarakat luas berhak mendapatkan buku secara gratis, hingga jual beli buku paket pelajaran di sekolah masih saja terjadi. Mengingat implementasi program buku elektronik ini senyatanya memang boleh dikata belum bisa menyelesaikan permasalahan untuk mewujudkan buku murah seperti yang diharapkan oleh semua pihak itu, mungkin pemerintah juga harus memaklumi atas pelaksanaan program itu kepada publik. Regulasi buku pelajaran dari cetak ke elektronik memang reformatif, namun belum sepenuhnya solutif!

Lantas jika seperti itu adanya, bahkan pemerintah telah kadung mengeluarkan kebijakan yang seperti itu, sebagai seorang pendidik seharusnya kita juga tidaklah ngelokro , ya paling tidak mengambil inisiatif atau jalan tengah atas beberapa persoalan yang muncul berkait kebijakan itu. Jangan sampai kebijakan yang telah dikeluarkan dengan banyak biaya berhenti di tengah jalan hanya karena beberapa masalah seperti yang terjadi pada fakta diatas.Memang untuk menjalankan kebijakan tersebut sangatlah dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemakai ( siswa ), penyelenggara ( guru ), pemerhati ( orang tua dan masyarakat ), dan tidak kalah pentingnya yaitu penyedia fasilitas yang tidak lain adalah Depdiknas.

Memang apabila suatu sekolah sudah lengkap dengan segala atribut fasilitas teknologi yang mendukung kebijakan pemerintah mengenai elektronik book ini akan berjalan bagaikan air yang mengalir di bengawan. Satu kata saja, di tempat penulis kebetulan mendapat bantuan berupa LCD proyektor akan tetapi di sisi lain kami tidak memiliki note book alias laptop. Namun karena di dalam ruangan kantor terdapat dua CPU computer maka kami pun memutar otak , mengangkat salah satu CPU tersebut tanpa dengan monitor, kemudian monitorpun kami ganti dengan LCD proyektor, slidenya pun cukup sederhana papan tulis kami tutup dengan atlas besar yang dibalik. Kemudian setelah itu hasil dwonloadtan E-Book dari Depdiknas tersebut kami coba putarkan kepada siswa di kelas III dan VI, dan hasilnya memang anak lebih tertarik dan paham dengan materi-materi itu karena polanya adalah interaktif multicheable teaching.

Disadari memang , hal diatas yang kami alami adalah hanya segelintir saja dari betapa memang banyaknya dukungan dan fasilitas untuk menyelenggarakan suatu pendidikan yang berkualitas. Benar atau tidak , memang sasaran buku gratis alias murah adalah perlu tahapan yang panjang, apalagi kita tahu negara kita adalah negara berkembang yang notabene anggaran pendidikannya masih di bawah rata- rata. Kita berharap tentu tanpa dengan keluh dan kesah kebijakan yang menimbulkan kontroversi ini adalah perlu dicoba di segala medan yang begitu menggejola dan membahana, dan harapan kita sejalan dengan perbaikan fasilitas-fasilitas dari pemerintah dan juga perbaikan anggaran di semua sektor pendidikan kebijakan elektronik Book (E-Book) untuk mewujudkan buku murah akan berhasil di masa mendatang.